• Beranda
  • TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

IMAN DARMATAMA

  • Home
  • Berita
  • Dunia Islam
    • Kisah Islami
    • Nasehat Islami
    • Pengetahuan Islam
  • Cerpen
  • Cerbung
  • Puisi
  • Ceritaku

Pages

  • Beranda

Minggu, 19 Mei 2013

Keteladanan Nabi Ibrahim

23.26  Kisah Islami  No comments

Kata uswah atau keteladanan dalam Al-Qur’an hanya ditujukan pada dua tokoh nabi yang sangat mulia, Nabi Ibrahim a.s. (Mumtahanah: 4,6) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Ahzab: 21). Demikian juga gelar khalilullah (kekasih Allah) hanya disandang oleh kedua nabi tersebut. Begitu juga shalawat yang diajarkan Rasulullah saw. pada umatnya hanya bagi dua nabi dan keluarganya. Pilihan Allah ini sangat terkait dengan risalah yang telah dilakukan oleh keduanya dengan sangat sempurna.
Sejarah dan keteladan Nabi Muhammad saw. telah banyak disampaikan. Dan pada kesempatan ini marilah kita sedikit menyingkap sejarah dan keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, `Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, `(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, `Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.’” (Al-Baqarah: 124)
Berkata Ibnu Abbas r.a., “Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim as.” Ibnu Abbas banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang dilaksanakan Ibrahim a.s, di antaranya manasik atau ibadah haji; kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh. Lima di bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung, siwak, dan membersihkan rambut. Lima pada bagian tubuh yaitu menggunting kuku, mencukur rambut bagian kemaluan, khitan, mencabut rambut ketiak, dan istinja.
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas mengatakan, “Kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna yaitu meninggalkan kaumnya ketika mereka menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu tamunya dengan baik, dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.
Firman Allah yang berbunyi `faatammahunna’ mengandung makna bahwa tugas yang diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera, sempurna, dan dilakukan semuanya. Menurut Abu Ja’far Ibnu Jarir, “Yang di maksud `kalimat’ boleh jadi mengandung semua tugas, atau sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu kecuali ada dalil nash atau ijma’ yang membolehkannya.
Ibrahim dan Kaumnya
Ibrahim as. bin Nahur  dalam Al-Qur’an bapaknya dinamakan Aazar, tetapi yang lebih kuat bahwa Aazar adalah nama berhala yang dinisbatkan pada bapak Ibrahim, karena pekerjaannya yang senantiasa membuat berhala adalah seorang yang mendapat karunia teramat besar dari Allah. Semenjak kecil beliau terbebas dari kemusyrikan bapak dan kaumnya. Ibrahim menjadi seorang yang hanif dan imam bagi manusia (An-Nahl: 120-121). Dan Ibrahim sangat bersemangat untuk mendakwahi bapaknya dan kaumnya agar hanya menyembah Allah saja. Ini adalah sunnah dakwah bahwa yang pertama kali harus didakwahi adalah orang tua dan keluarga, kemudian kaum dan penguasa.
Menurut pendapat yang kuat, Ibrahim lahir di kota Babil (Babilonia), Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala. Ibrahim membantah penyembahan mereka, bahkan berencana untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Peristiwa ini diabadikan dalam beberapa surat, di antaranya di QS. 21: 51-70, 26: 69-82, dan 37: 83-98.
Penduduk kota Babil memiliki tradisi merayakan Id setiap tahun dengan pergi keluar kota. Ibrahim diajak bapaknya untuk ikut, tetapi Ibrahim menolak dengan halus. Ia berkata, “Sesungguhnya Aku sakit.” (Ash-Shaaffat: 88-89). Dan ketika kaumnya pergi untuk merayakan Id, Ibrahim segera menuju penyembahan mereka dan menghancurkan dengan kampak yang ada di tangannya. Semua dihancurkan dan hanya disisakan satu berhala yang besar, dan kampak itu dikalungkan pada berhala itu. (Al-Anbiya’: 58)
Demikianlah, Ibrahim menghinakan penyembahan kaumnya. Sebenarnya mereka sadar akan kesalahan itu. Tetapi, yang berjalan pada mereka adalah logika kekuatan melawan kekuatan logika Ibrahim. Akhirnya mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim (Ash-Shaaffat : 97; Al-Anbiya’: 68-70).
Ibrahim dan Raja An-Namrud
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: `Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: `Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: `Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
Menurut ulama tafsir dan nasab, raja itu adalah Raja An-Namrud bin Kan’an, penguasa Babil. menurut As-Sudy, “Debat ini terjadi antara Ibrahim dan Raja Namrud setelah Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan dibakar api.” Zaid bin Aslam berpendapat, “Ibrahim diutus pada raja yang diktator tersebut, memerintahkan agar beriman kepada Allah. Berkali-kali diseru agar beriman, tetapi terus menolak. Kemudian menantang Ibrahim a.s. agar mengumpulkan pengikutnya dan Namrud pun mengumpulkan rakyatnya lantas terjadilah debat yang disebutkan Al-Qur’an tersebut.” Sekali lagi kekuatan logika Ibrahim a.s. mengalahkan logika kekuasaan Namrud.
Kisah kematian Raja Namrud dan tentaranya disebutkan dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir. Namrud mengumpulkan tentara dan pasukannnya saat terbit matahari. Kemudian Allah mengutus nyamuk yang menyebabkan para tentara dan pasukannya tidak dapat lagi melihat matahari. Nyamuk-nyamuk besar itu memakan daging dan darah mereka dan meninggalkan tulangnya. Salah satu nyamuk masuk ke hidung Raja Namrud dan diam di sana selama 400 tahun sebagai bentuk adzab Allah atas raja itu. Selama waktu itu pula Namrud senantiasa memukuli kepalanya hingga ia mati.
Ibrahim dan Keluarganya Hijrah ke Baitul Maqdis
Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari kezhaliman Raja Namrud, Ibrahim a.s. bersama istrinya, Sarah, bapak, dan saudara sepupunya, Luth a.s. hijrah menuju Syam. Tepatnya ke Baitul Maqdis, Palestina (Ash-Shaaffat: 99).
Di tengah jalan, di daerah Haran, Damasqus, bapaknya meninggal. Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Penduduk kota ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini Ibrahim a.s. menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan, dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Alquran surat 6:75-83.
Ibrahim a.s. dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis setelah sebelumnya mampir di Mesir. Dari Mesir Ibrahim a.s. mendapat banyak hadiah harta, binatang ternak, budak, dan pembantu bernama Hajar yang keturunan Qibti, Mesir. Di Baitul Maqdis Ibrahim a.s. mendapat penerimaan yang baik.
Selama dua puluh tahun tinggal di Baitul Maqdis, Ibrahim a.s. tidak mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan memberikan budaknya pada Ibrahim. Berkata Sarah pada Ibrahim, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak. Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita.”
Setelah itu, lahirlah Ismail a.s. Tetapi Sarah merasa cemburu berat. Akhirnya, Ibrahim a.s. membawa Hajar dan putranya ke suatu tempat yang disebut Gunung Faran (Mekah sekarang), suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail a.s., Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir seorang anak. Lahirlah Ishaq a.s. Ibrahim a.s. sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah kedua putra itu kelak menjadi nabi dan secara turun-temurun melahirkan nabi. Dari Ishak a.s. lahir Ya’kub dan Yusuf a.s. serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail a.s. lahirlah Nabi Muhammad saw.
Pengorbanan Ibrahim Dan Keluarganya Episode berikutnya dilalui Ibrahim a.s. dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang kepala rumah tangga melebihi pengorbanan meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah, yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an di surat 14:37-40.
Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim a.s. akan meninggalkan putranya, Ismail, istrinya, Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana? Engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus-menerus memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.’ Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”
Tapi, itu bukan puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail (Ash-Shaaffat: 102-109).
Berkah Pengorbanan Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.
Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan: Muhammad saw., nabi yang menjadi rahmatan lil’alamiin.
Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga, dan keturunan kita. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikan aksioma ini: Ibrahim dan keluarganya –Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw. dan keluarganya –siti Khadijah, `Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.
Begitu juga para sahabat yang mulia: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in: Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Tak ketinggalan para pahlawan dari generasi modern juga telah mencontohkan kepada kita. Mereka di antaranya Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, dan Hasan Al-Banna. Dan kita yakin akan terus bermunculan pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi, darah syuhada, dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.
***
Oleh: Tim dakwatuna.com

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Tags
  • Blog Archives

Mengenai Saya

Foto saya
John Id itu Iman Darmatama
Tidak ada kehidupan yang menarik jika kita tidak memulai sesuatu yang berbeda dan meninggalkan kesan yang indah dan berguna
Lihat profil lengkapku

DAFTAR LINK

  • UNIVERSITAS BENGKULU
  • FAKULTAS PERTANIAN UNIB
  • ISMPI (Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia)
  • IMTPI (Ikatan Mahasiswa Teknologi Pertanian Indonesia)
  • FORAGRIN (Forum Agroindustri Indonesia)
  • UKM P3M KBM Universitas Bengkulu
  • Moslem Generation Club
  • FB FAKULTAS PERTANIAN UNIB
  • FB TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

Entri Populer

  • TABUNGAN UNTUK UMI DAN ABI
    TABUNGAN UNTUK UMI DAN ABI Oleh : D euis Pebria  Dering suara Alarm jam kecil kesayangan, membangunkanku dari lelapnya tidur, te...
  • Puisi "NANTIKANKU DIBATAS WAKTU"
    NANTIKANKU DIBATAS WAKTU Oleh : P angeran Dibalik rak-rak buku tertata kukenal bayang indah menyentuh hati Bergema sebuah nama lewat...
  • Industri Di Bengkulu
    Peranan sektor industri pengolahan dalam perekonomian Provinsi Bengkulu relatif rendah. Hal itu terungkap dari relatif rendah. Hal itu te...
  • Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani
    Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah...
  • Gambar Islami
  • Puisi "TERIAKAN TERDALAM UNTUK PEMUDA"
    TERIAKAN TERDALAM UNTUK PEMUDA Oleh : P angeran Gemuruh pembangunan menata tanah gersang penuh cerita Mencipta alunan pembaruan y...
  • CINTA DALAM DIAM
    CINTA DALAM DIAM   Oleh :  N esya Puspita Putri   Namaku Putri, aku biasa dipanggil Puput. Aku masuk salah satu universitas islam...
  • Puisi "RAHASIA DALAM SENJA"
    Rahasia Dalam Senj a   Oleh : P angeran Dingin sentuhan gemercik air laut   seakan menasehati jiwa Menyentuh kekosongan   yang...
  • Hakikat Cinta
    Bismillaah..... Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan meng...
  • Sayyidah Nusaibah Wanita Mulia
    Oleh: Luthfi Bashori Nama Sayyidah Nusaibah, tampaknya jarang sekali disebut oleh umat Islam Indonesia, padahal beliau adalah seoran...

Total Tayangan Halaman

Labels

  • Berita (4)
  • Cerbung (2)
  • Ceritaku (1)
  • Cerpen (14)
  • Ilmu (26)
  • Kisah Islami (28)
  • Nasehat Islami (1)
  • Puisi (15)

Lencana Facebook

Iman Darmatama

Buat Lencana Anda
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda

Followers

Blog Archive

  • ►  2017 (20)
    • ►  Februari (20)
  • ►  2015 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Maret (2)
  • ▼  2013 (52)
    • ▼  Mei (47)
      • Memimpin dengan Rendah Hati
      • Wasiat Rasululloh s.a.w kepada Aisyah
      • Kisah Nabi Adam as, Syurga yang serba nikmat
      • Istri Solehah
      • Kisah Seorang Pemuda, Mati Satu Tumbuh Seribu
      • Keshalihan Itu Menembus Segala Batas
      • Kisah Si Belang, Si Botak, dan Si Buta yang Diuji ...
      • Akhir Hayat ‘Sang Biola Padang Pasir’
      • Belajarlah dari Khadijah
      • Ketika Doa Terhalang Makanan Haram
      • Keutamaan Sedekah
      • Keteladanan Nabi Ibrahim
      • Ihwal Ketakutan Para Nabi
      • Khaulah Binti Tsa ‘labah (Wanita Yang Aduannya Did...
      • Ibu Pembunuh dan Korban Pembunuhan
      • Keberanian Dan Kesabaran Rasulullah
      • 5 Perkara Sebelum 5 Perkara
      • Dakwah Nabi Kepada Kaisar
      • Wanita Ilmuwan Beralih Ke Islam, Karena Tidak Yaki...
      • Sayyidah Nusaibah Wanita Mulia
      • Solat Jamak dan Qasar
      • Janganlah meninggal kan SHOLAT JUMAAT
      • Dakwah Rasulullah SAW di Medan Perang
      • Video Gue
      • Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW
      • Kecintaan para Sahabat kepada Rasulullah SAW
      • Pentingnya Sunnah Rasulullah SAW
      • Kisah Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama D...
      • Mendamaikan Pertikaian
      • Perjalanan Taubat
      • Rumah Tangga yang Romantis
      • Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani
      • Tak Sanggup Menghitung Nikmat Allah
      • Kisah Doa Dua Lelaki
      • SAAT ANDA LEMAH DALAM BERIBADAH
      • Gambar Islami
      • Klik untuk melihat Videonya.... ^__^ Tanda-tan...
      • SI TUKANG CUKUR
      • Filosofi Sholat
      • Gambar Islami
      • « Ciuman Sang Bunda 'Bangkitkan' Putrinya Dari Amb...
      • 业 “JADI ORANG ANEH DEMI MERAIH SYURGANYA” 业
      • ‘‘KISAH SI PEMBUNUH 100 ORANG TAUBATNYA DITERIMA’’ ※
      • Amalan Rajab dan hadits Dhoif
      • Hakikat Cinta
      • . KISAH MENYENTUH, .. AKIBAT SALAH PENGERTIAN ...
      • MANUSIA BERTANYA, AL-QUR'AN MENJAWAB
    • ►  April (5)

About

Blogger templates

 
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About

Copyright © IMAN DARMATAMA | Powered by Blogger
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes
NewBloggerThemes.com