Pages

Sabtu, 11 Februari 2017

TABUNGAN UNTUK UMI DAN ABI

TABUNGAN UNTUK UMI DAN ABI
Oleh : Deuis Pebria 
Dering suara Alarm jam kecil kesayangan, membangunkanku dari lelapnya tidur, telingaku tak kuat menahan ocehan Alarm yang semakin lama semakin rewel. Ku matikan saja Alarmnya sambil menengok ke arah jarum jam. “ hoaaam... Ternyata masih jam 5 “ ucapku pelan lalu ke pejamkan mata ini kembali dan tertidur. Tidak lama kemudian, terdengar suara Umi Memanggilku “ Nisa ayoo bangun sholat shubuh sayang” ya namaku adalah Afnan Nisa Faizah semua temanku biasa Memanggilku Nisa termasuk kedua orangtuaku. Umi dan Abi tidak sembarang memberikan nama itu padaku, semua namaku ada arti yang sangat baik.Afnan itu artinya pohon yang berbuah, Nisa berarti anak perempuan, dan Faizah artinya kemenangan. Kalau ketiga nama itu digabung memiliki arti “ anak perempuan yang mendapat kemenangan dan banyak memberikan manfaat seperti pohon yang berbuah. 
Umi terus saja memanggil-manggil tapi aku tetap saja tidur dan menghiraukannya, sampai suara Umi tak terdengar lagi. 
Ku nikmati mimpi bersama seorang laki-laki yang sangat tampan dia mengajakku ke sebuah taman yang sangat indah, dia memetikkanku sekuntum bunga mawar merah dan memasangnya di telingaku “ kau cantik sekali” pujinya aku pun tersipu malu mendengar pujiannya itu. Lalu dia menghilang, aku mencari-cari tapi tak ada satupun jejak yang bisa aku temukan “ kemana dia?” ucapku penuh dengan kegelisahan. Tiba-tiba laki-laki yang sangat menyeramkan datang menghampiriku dan mengajakku pergi. aku melepaskan tangannya yang menggenggam erat tanganku, aku berlari dan dia terus mengejarku
“Nisa mau kemana ayooo pergi bersamaku” ucapnya sambil terengah-engah mengejarku. 
Aku berlari terbirit-birit dan ketakutan “ Toloooong.... Toloooong” teriakku kencang sekali tapi tak ada satu orang pun yang mendengar. Tiba-tiba laki-laki itu ada dihadapanku 
“Mau kemana kamu Nisa ha..ha..ha” ucapnya menyeramkan sekali sambil mengeluarkan senjata tajam dan akan menusukku “ aaaaaa........” Teriakku ketakutan. Lalu aku terbangun “ Alhamdulilah .... Ternyata hanya mimpi” sambil mengelus dada hatiku merasa tenang ternyata itu semua hanyalah mimpi belaka. Tapi bayangan laki-laki itu seperti nyata ada dihadapanku, sambil membawa pisau tajam. 
“Jangan... Jangan bunuh aku” ucapku ketakutan sambil ku peluk guling untuk melindungi wajahku. Dia semakin dekat.. Dan “ nisaaaa ayooo bangun sayang sudah siang, nanti terlambat sekolah” hah ternyata itu umi, ilusiku semakin tidak karuan saja. “ umiiiiiii.... “ ku peluk umi sambil Terisak-isak.
“Kenapa kamu sayang” tanya umi lembut.
“Aku bermimpi buruk umi, ada yang ingin membunuhku” ku semakin tak kuat menahan tangis.
“Itu hanya mimpi nisa, sebaiknya daripada kamu berilusi tidak jelas, segera bersiap-siap lihat jamnya” sambil mengambil jam kecil Kesayanganku.
“Astagfirulloh.. Sudah jam enam lewat lima belas menit, bagaimana ini aku belum sholat shubuh lagi” aku pun kebingungan. 
“Umi kan sudah bangunkan dari tadi shubuh, tapi telingamu ini tak mendengar” sambil menjewer telingaku
“Maaf umi.. “ sesalku sambil ku pegang telingaku yang mulai memerah akibat jewerannya umi
“Kalau sudah terlambat seperti ini, siapa yang akan kamu salahkan, masa kamu salahkan umi nanti” nasihatnya membuat hatiku berdebar-debar.
Aku terdiam mendengar perkataan umi, aku pun sangat menyesal tak pernah mendengarkan nasihat umi.
“Cepatlah bersiap-siap, Abi sudah menunggumu dari tadi” perintahnya tegas padaku.
“Abi?? Bukannya Abi sudah berangkat kerja? Tanyaku keheranan.
“Hari ini Abi berangkat jam 7, jadi kamu bisa berangkat bersama Abi, cepat bersiap nanti Abi juga bisa terlambat” jelas umi sambil pergi untuk mempersiapkan sarapan.
Setelah selesai, aku pergi bersiap untuk sarapan. Sesudah itu, segera aku berangkat sekolah dan tak lupa mencium tangan umi sambil mengucapkan salam. Abi mengemudikan mobil sangat cepat, jarak rumah ke sekolah lumayan cukup jauh dan untungnya, sekolahku dengan tempat kerja Abi lumayan berdekatan jadi kemungkinan Abi pun tak akan terlambat masuk kerja. Ketika di mobil, Abi tak berbicara sedikit pun, Abi terus saja melihat ke arah jam. 
“Hmmm abi aku boleh tanya sesuatu?” Tanyaku pelan.
“Iya boleh tanya apa nak?” Jawabnya singkat.
“Kalau kita berniat sholat shubuh, tapi malah kesiangan, bagaimana? Tanyaku malu sekali.
“Kenapa? Kamu kesiangan sholat shubuh lagi? Tanyanya tegas.
“Iya Abi... Yang kemarin aja belum di ganti, eh sekarang malah kesiangan lagi” 
“Sebaiknya segera kamu qodo di waktu itu juga, namanya orang kesiangan kan bukan hal yang disengaja. Tapi, kejadiannya, kamu sudah umi bangunkan dari shubuh, tidak segera bangun, akhirnya malah mimpi buruk kan? Jelasnya.
“Kok Abi bisa tahu?” Tanyaku keheranan.
“Umi tadi bilang sama Abi! dengar ya nak, sholat itu penting apalagi sholat wajib ketinggalan satu waktu saja, kamu akan rugi besar dunia dan akhirat apalagi sampai sengaja meninggalkannya” nasihat abi yang jelas dan lugas, semakin membuat hatiku tidak tenang. 
Tidak terasa percakapan kami memakan waktu yang cukup lama. Dan akhirnya sampai di sekolahku. “ lain kali jangan kesiangan lagi!!” Abi mengingatkanku kembali. “ iya abi” jawabku sangat pelan aku takut temanku mendengarnya. Lalu, Aku mencium tangan abi dan mengucapkan salam. Abi pun segera pergi berangkat kerja. “ anak Macam apa aku ini, tidak mensyukuri bahwa umi dan abi sangat sayang padaku, mereka tak henti-hentinya menasihati ku, tapi aku sering tak mendengarkannya” menggerutu dalam hati. Aku pun berjalan menuju kelas dan masih saja menyesali perbuatanku selama ini. Ketika aku melihat ke arah mading, disana ramai sekali.
“Nisaaaa.... Siniiii” panggil salah satu temanku bernama maya anaknya cantik, baik, bawel, humoris, dan pintar.
“Ada apa??” Segera aku berjalan menghampirinya.
“Coba lihat ini bagus untukmu” sambil menunjukkan ke salah satu kertas yang berisi perlombaan hafiz Alqur’an.
“Pantas saja ramai ternyata ada perlombaan” ucapku singkat.
“Kamu ikutan yaaa?” Bujuk maya padaku.
“Kenapa harus aku, kamu saja yang ikut lomba” jawabku ketus.
“Belum ada satu juz pun yang aku hafal, disini tertulis persyaratan mengikuti lomba minimal sudah hafal 5 juz, kamu kan insyaAlloh 15 juz sudah hafal” jelasnya sambil tersenyum.
“Dari mana kamu tahu kalau aku bisa menghafal 15 juz alqur’an?” Tanyaku keheranan padahal aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun hanya umi dan abi saja yang tahu.
“Kamu ingat gak waktu pertama kali masuk sekolah, kita pernah di test membaca Alqur’an? Lalu, ibu Sukma menyuruhmu tanpa melihat Alqur’an dan MasyaAlloh kamu sangat hafal baca’annya sampai tajwidnya juga bagus banget” pujinya. 
“Hehehe... Sudahlah.. Tapi, bagaimana kamu bisa yakin kalau sekarang aku sudah hafal setengah juz?” 
“Ya elah.. Itu mah gampang banget, dari cara ngomong aja udah keliatan kalau kamu sering baca Alqur’an, makanya aku yakin banget pasti sekarang kamu sudah hafal setengah juz atau sudah 30 juz ya?” Paksanya membuatku harus mengakui.
“Belum kok.. Do’akan saja ya” jelasku singkat
“Makanya kamu ikutan ya, aku yakin pasti kamu Menang, kamu gak mau mengasah kemampuanmu? Aku pernah mendengar ceramah dari seorang ustad dia menyampaikan sabda Rasulluloh SAW  : ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…” begitu nis penjelasannya, maaf ya gak ada maksudku menggurui, kamu gak mau mempersembahkan jubah kemuliaan buat kedua Orangtuamu nanti nis? Itu bisa jadi tabungan Akhirat buat umi dan abimu loh nis termasuk kamu juga?” Bujuk dan nasihatnya menumbuhkan semangatku.
“Hmmm... InsyaAlloh aku ikut. Kamu  juga jangan cuma nasihatin aku doang” sindirku halus.
“Sebenarnya aku juga mau ikutan tapi.. Aku kan belum hafal satu juz pun nis, InsyaAlloh kalau nanti ada kesempatan aku ikut” 
“Ya sudah.. Aku do’akan semoga kamu juga bisa menghafal 30 juz sekaligus Aaamiiiin”
“Aaamiiiiin ya Alloh ya Robbal Alamin.. Cepat daftar ke bu Sukma ( guru PAI) pendaftarannya besok paling telat lho” 
“Iya.. Tapi kamu antar aku ya aku malu soalnya hehe” 
“Huuuu iya iya nanti aku antar, apa sih yang enggak buat sahabatku ini” sambil memeluk pundakku
“Apa sih kamu tuh Lebay” ucapku ketus. 
Lalu, aku pun segera mendaftarkan diri mengikuti perlombaan, ternyata banyak sekali yang sudah mendaftar, aku berada di urutan paling bawah. Alhamdulilah ada banyak sekali yang berminat mengikuti perlombaan ini. Hadiahnya memang cukup menggiurkan. Juara III hadiahnya uang sebesar 1 juta + 1 buah Alqur’an beserta tajwidnya, juara II hadiahnya uang sebesar 2 juta + 1 buah Alqur’an beserta tajwidnya, juara I hadiahnya uang sebesar 4 juta + 1 buah Alqur’an beserta Tajwid dan akan diajak ke Kairo selama 1 bulan untuk mempelajari Alqur’an lebih dalam lagi bersama hafizh Alqur’an yang lainnya. MasyaAlloh.. Tapi, aku berniat mengikuti lomba ini bukan untuk berlomba-lomba mendapatkan hadiah, melainkan untuk mengasah kemampuanku dan semoga ini menjadi tabungan untuk kedua orangtuaku kelak. Kalau menang atau kalah itu urusan belakangan yang terpenting ikhtiar dan berdo’a dulu, jangan lupa do’a dari kedua orangtua itu lebih penting dari segalanya. 
Sesampainya dirumah, aku meminta izin mengikuti lomba hafizh Alqur’an kepada Umi dan Abi, mereka sangat mendukung bahkan mereka membelikanku Alqur’an yang sangat lengkap ada tafsir dan Tajwidnya lagi. Aku pun sangat bersemangat mengikuti perlombaan ini. Hari demi hari telah ku lewati, dan Akhirnya perlombaan itu tiba. Lokasi perlombaan itu, berada di mesjid sekolahku. Aku pun sangat deg-degan dan gugup, pasti banyak yang melihatnya.
“Aduuuuuh kok tiba-tiba perasaanku jadi gak karuan gini.. Aku gugup may” ucapku sambil mondar-mandir dan memegang dadaku.
“Bismillah ya nis, tenangkan dirimu jangan gugup” ucap maya yang berusaha menenangkanku. Tak lama kemudian,  seorang ustad yang tak lain adalah panitia perlombaan itu memanggil namaku. Hatiku semakin berdebar kencang tubuhku mendadak panas dingin.
“Nis... Giliranmu ayooo semangat ya jangan lupa bismillah” maya yang selalu menyemangatiku aku pun tak ingin membuatnya kecewa, aku pun bangkit dan bersemangat
“Bismillah.. Do’akan aku ya may” sambil ku pegang tangannya dan dia pun memegang tanganku. 
“Pasti aku do’akan nis.. Kamu bisa kok semangatt ya” lagi-lagi dia menyemangatiku. Aku pun segera memasuki mesjid dan salah seorang panitia muda mempersilakan aku masuk dan menunjuk ke arah mimbar. Ku berdiri diatas mimbar, ku lihat banyak sekali juri dan panitia dan semua teman-temanku menyaksikan perlombaan ini. Ketika ku mulai membacanya, hatiku terasa tenang dan rasa gugup itu pun hilang seketika. Aku tak menghiraukan orang-orang di sekelilingku, aku terus saja menikmati lantunan ayat demi ayat yang sedang aku bacakan. 
Pikiranku pun terasa jernih, kudengar suaraku begitu lirih dan merdu. Tak terasa air mata ini bercucuran dengan sendirinya.
Setelah juri mengetesku dengan sambungan ayat,  Alhamdulilah aku bisa menjawabnya dengan lancar. Dan lomba itu pun telah selesai. Sekarang saatnya pengumuman pemenang hasil penilaian para juri, aku merasa tidak yakin kalau aku akan menang, soalnya peserta yang lain jauh lebih baik dariku. Tapi, aku pun teringat pertama kali aku berniat mengikuti perlombaan ini jadinya aku tidak merasa khawatir lagi. Ketika ku dengar namaku disebut dengan meraih peringkat ke dua dari 156 peserta Aku pun tak menyangka kalau aku bisa memenangkan hafizh Alqur’an meskipun hanya meraih juara kedua. Dan juara pertama di raih oleh rian teman sekelasku, rian memang pantas menerimanya. 
Alhamdulilah kemenangan ini sebagai hadiah atas usahaku selama ini, dan ku persembahkan kemenangan ini untuk umi dan Abi....

SYAIR DALAM KEHIDUPAN DARI AYAHKU

SYAIR DALAM KEHIDUPAN DARI AYAHKU
  Oleh : Rudi Al-Farisi

Seiring waktu, Diumurnya yang hampir masuk 25 tahun, langkah kehidupan Aldo perlahan berubah, hari hari yang ia lalui terasa amat pahit. Dulu hidupnya serba ada, mau apa tinggal beli, kepingin ini itu tinggal minta uang sama ibunya. Maklum saja, Aldo anak semata wayang. Sekarang, roda kehidupannya berubah drastis, terbalik diputar tingkah laku ayahnya yang melakukan sabotase proyek.

Dulunya, ayah Aldo adalah seorang yang sangat tegas. Dengan memegang prinsip islami, hidup mereka dipenuhi suasana agamis. Tetapi semenjak perusahaan milik ayahnya dipercayakan menangani proyek besar tahun itu. Iman ayahnya mulai goyah. Ayah Aldo sering kali menyabotase urusan proyek demi meraup keuntungan lebih. Dan naas, akhirnya ketahuan.

Semenjak ayah Aldo di penjara, perusahaan mereka pun ikut bangkrut. Ironisnya Aldo tidak pernah sekali pun menjenguk ayahnya dipenjara. Aldo belum bisa menerima kenyataan. Semua cerita kejadian ini ia dengar dari ibunya, karena dari kecil, ia tidak mau tahu dari mana datangnya semua kemewahan itu. Dan yang ia dengar dari ibunya, ayahnya dihukum enam bulan penjara. Semenjak itulah Aldo yang menjadi tulang punggung keluarga.

Singkat cerita, Mulai saat itu, Aldo dan ibunya saling bahu membahu dalam memenuhi kebutuhan hidup. sebab, harta mereka semuanya ludes disita dan mereka terpaksa pindah kerumah sewa yang kecil dan sangat sederhana. Aldo bekerja semrautan. Ibunya terpaksa bekerja jadi pembantu dirumah teman ayahnya. Dan demi membiayai skripsi kuliahnya. Aldo terpaksa harus bekerja tambahan di kafe temannya.

Hari demi hari pun berlalu, kuliahnya pun telah selesai. Dan Sifat manja Aldo pun perlahan mulai berubah.

Suatu ketika, Saat itu Aldo baru pulang kerja dari kafe.  Ia lihat jam ditangannya, sudah jam sepuluh malam, “ibu kok belum pulang ya.” suara batinnya.

Tiba-tiba. “Tok.tok..tok..“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam..” jawab Aldo.

Ia lihat, ternyata ibunya. Ibunya pun tersenyum, tapi senyum manis ibunya itu, tidak bisa menghilangkan guratan kelelahan yang tampak di wajahnya.
“Bu.. Aldo mau ngomong, tapi biar Aldo buatkan teh hangat dulu ya..
“Mau bicarakan apa Do, kok kayaknya penting banget..” jawab ibunya santai.
“Bigini bu, Aldo kan sudah lulus kuliah. Rencananya besok Aldo mau cari kerja tambahan. Agar ibu tidak usah lagi bekerja jadi pembantu. Biar Aldo saja yang kerja. ibu istirahat aja dirumah ya..” jelas ku pada ibu.

Ia tatap wajah ibunya. Ada guratan haru yang tampak dari kedua mata ibunya yang berkaca-kaca.
“Alhamdulillah… ternyata anak ibu sudah berubah. Tapi Aldo mau kerja apa.?
“Terserahlah bu.. apa yang diberikan Allah nantinya. Yang penting kita usaha dulu.. Soalnya, Aldo tidak tahan melihat ibu pagi-pagi buta sudah pergi dan malamnya baru pulang.. jawabnya.

Ia lihat mata ibunya. Ternyata air mata ibunya tak terbendung lagi. Tiba-tiba ibunya memeluk Aldo..
“Do… kalau ayahmu tahu, ia pasti bangga denganmu..”
“Sudahlah bu… Aldo kan udah besar. Biar Aldo yang gantikan tugas ayah.”

Ibunya menatap dalam wajah anaknya itu. Tangannya yang lembut memegang kedua pipi Aldo dengan hanyut terbawa haru.

Keesokan harinya. Dia berangkat dengan restu ibunya. Ia langkahkan kedua kakinya dengan semangat. Saat jumpa suatu perusahaan. Ia langsung masuki dan mencoba melamar kerja. Tapi gayung belum bersambut. Ia ditolak. Dan begitu juga selanjutnya. Ia terus mencoba tapi tetap dengan jawaban yang sama.

Tak terasa, hari pun berganti semakin terik. Keringat ditubuhnya hampir-hampir membasahi pakaiannya. Saat ia duduk dihalte bis untuk istirahat sejenak, terdengar dari kejauhan suara azan zhuhur berkumandang ditengah hiruk pikuk kota.

Akhirnya ia putuskan untuk menghadap sang ilahi dahulu sebelum melanjutkan usahanya lagi. Usai sholat, ia bersimpuh dan bermunajat kepada sang Ilahi. Lalu ia kembali menyusuri satu persatu perusahaan yang ada. Tapi tetap dengan jawaban yang sama pula yakni tidak menerima lowongan.
“Rasanya sudah dua belas perusahaan yang aku masuki, tapi tak ada satu pun yang menerima lowongan. “Ya. Rabb.. Bantu aku ya rabb…” rintih batinnya.

Saat melintasi gedung bertingkat yang lebih dari sepuluh lantai. Ia melihat tulisan “Kencana Group” Sebenarnya ia sudah hampir menyerah, dan berniat hendak pulang kerumah. Tetapi batinnya menolak. Dan akhirnya ia putuskan untuk mencoba memasuki gedung itu dan melamar.
“Permisi Mbak… mau nanya, ruang personalianya dimana ya… tanya Aldo kepada gadis yang sibuk bersih-bersihkan kaca gedung itu.

Saat gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap kepada Aldo. Tiba-tiba hati Aldo bergetar dan matanya pun tak berkedip memandangnya. “Sungguh mempesona..” Desah batinnya.
“Oh maaf.. mas masuk aja… Ntar tanya aja ke resepsionisnya.. Maaf ya mas, saya lagi sibuk.
“Oh tak apa.. makasih ya..” jawabnya dengan hati berbunga. “Sungguh halus budinya.” Desah batinnya lagi.

Sambil masih menatap gadis itu. Aldo pun masuk. Sesampainya di resepsionis. ia kembali teringat dengan gadis yang didepan tadi. Jiwanya hanyut dibawa aroma pandangan pertama.
“Maaf mas, ada yang bisa kami bantu.” tanya petugas membuyarkan lamunannya.
“Oh Maaf pak.. begini pak, saya mau ngajukan lamaran kerja pak.. apakah masih ada lowongan pak.. tanyanya sambil menyodorkan map yang ia pegang.”
“Oh maaf mas… disini lagi tidak menerima lowongan. Maaf mas ya…”
“Tapi pak… kerja apa saja saya mau kok pak..”
“Iya mas… tapi disini semuanya lagi penuh.. maaf ya mas..”
“Iyalah... terima kasih pak.. permisi..” jawabnya kecewa.

Hatinya kembali hancur.. dadanya pun sudah berulang kali sesak menahan sabar satu hari itu. rasanya ia ingin pulang saja, ingin rasanya ia curhat pada ibunya. saat ia hendak melangkahkan kaki keluar. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Mas..mas..” Rupanya bapak yang tadi. Bapak itu mengatakan aku bisa bekerja di perusahaan itu. tapi hanya bisa menjadi petugas cleaning servis. Karena ada satu orang petugas cleaning servis yang mengundurkan diri hari itu, katanya.
“Bagaimana mas… mau..?” tanya bapak itu.
“Iyalah.. saya mau.. yang penting halal pak..”

Aku pun bergegas pulang. Aku langsung cerita pada ibu. Saat kubilang jadi cleaning servis, mata ibu agak berkaca-kaca.

Tiba-tiba ibunya bertanya. Dan ada guratan kegelisahan yang tampak dari wajah ibunya itu.
“Dimana Aldo akan kerja nak…?
“Di perusahaan Kencana Group bu..” Jawabnya.
“Kencana Group…? ucap ibunya heran.
“Iya bu.. yang dijalan Yos Sudarso itu bu..

Sepertinya ada hal yang dirahasiakan ibunya. wajah ibunya langsung terlihat bingung. Sikap ibunya pun agak salah tingkah.
“Kenapa bu..” tanya Aldo.
“Oh.. tak apa Do.. tak ada apa-apa kok.” Baguslah.. Jawab ibunya terbata-bata..

Singkat cerita, Aldo pun bekerja menjadi cleaning servis. Ia lalui hari demi hari dengan sangat sibuk. Dari pagi hingga sore ia kerja jadi cleaning servis dan bila badannya fit, malamnya ia kerja dikafe temannya untuk cari tambahan.

Ditempat kerja, akhirnya ia bisa kenalan dengan gadis yang memikat hatinya saat melamar dulu. Karena satu profesi, ia pun saling dekat dan mengenal akrab dengannya. Nama gadis itu Dina. Lama kelamaan, rasa cinta dihatinya semakin tumbuh bersemi,  tetapi rasa itu ia pendam dulu untuk sementara. Karena ia rasa, ia belum mampu untuk berhubungan dengan wanita dengan kondisi pekerjaan seperti itu.

Suatu ketika, saat sedang asyik mengepel keramik di depan resepsionis, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok wanita setengah baya. Yang baru masuk dari pintu kaca kantor.

Ia melihat ibunya, tapi ia heran dengan dandanan ibunya. Ibunya terlihat rapi. Sama seperti gaya ibunya saat hidup mereka jaya dulu. Wajah ibunya pun semakin terlihat cantik dengan gaun seperti itu. Ia bingung, ada hal apa ibunya datang ketempat kerjanya dengan dandanan seperti itu.

Saat berpapasan wajah. Ibunya berhenti dan terlihat gugup. Tapi tingkahnya tetap tenang. Kami berdua berdiri agak lama dan saling menatap.
“Ibu…?” Ibu kan..” sapanya heran.

Tiba-tiba pengawas kantor datang memarahinya dan menyuruh Aldo tidak berlaku lancang. Dan memerintahkan Aldo untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Maaf bu… ini petugas baru.. ia belum kenal.” jelas pengawas pada ibunya.
“Pak.. bapak kenal dengan ibu saya..? tanyanya bingung.
“Tak apa pak.. biarkan kami berdua.” Jawab ibunya.

Aldo bingung. kok bisa pengawas kenal dengan ibunya. Sepertinya ada hal yang ia tak mengerti. Ada sesuatu yang jauh dari jangkauan pikirannya.

Belum ada kata yang keluar bibir ibunya. Tiba-tiba ibunya mengambil hp dari tas cantiknya. Dan menelpon dengan seseorang. Ia bertambah bingung melihat ibunya mempunyai hp.
“Yah..! Ibu di bawah.. Ibu lagi sama Aldo nih. Kita selesaikan saja ya pa..” ucap ibunya di ponsel.

Kepala Aldo menggunung dengan kebingungan.
“Ayah…? dan apa yang diselesaikan..?“ suara bingung hatinya.

Aldo bertambah kaget melihat semua karyawan berkumpul dan menatap sosok lelaki setengah baya yang baru keluar dari lift.
“Ayaaaah……?” Aldo kaget.
“Ia anakku.. ini ayah.” sambut ayahnya.
“Loh kok..” suara Aldo terhenti saat ayahnya memeluk dengan haru.
“Aldo anakku.. Ayah rindu padamu. Maafkan ayah ya… Ayah dan ibu terpaksa melakukan semua rekayasa ini.” Ini semua demi masa depanmu. Dan demi masa depan perusahaan ini, juga demi masa depan semua karyawan yang ada disini.” Jelas ayahnya tenang.

Ia coba menebak apa yang terjadi. Ia lepaskan pelukan ayahnya dan ditatapnya wajah ayah dan ibunya. Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum bangga. Ia lihat semua mata yang ada disitu tertuju pada mereka. Termasuk Dina gadis pujaan hatinya.
“Ada apa ini yah… bu..? tanyanya heran bercampur haru.
“Nanti ayah jelaskan semuanya. Yang jelas ayah lihat, Aldo sekarang sudah jauh berbeda dengan Aldo yang dulu. Ayah bangga padamu. Kamulah satu-satunya harapan ayah untuk meneruskan perusahaan ini. Dan inilah cara ayah dan ibu untuk menciptakan rasa tanggung jawabmu dan juga merubah sifat manjamu.” Jelas ayahnya sambil memeluk Aldo kembali dengan erat.

Akhirnya Aldo pun mengerti dengan semua ini. Yang ia rasakan saat itu cuma perasaan bahagia yang meluap. Ia pun bergegas bersujud syukur pada sang ilahi… ALLAHU AKBAR….

CINTA DALAM DIAM

CINTA DALAM DIAM 
Oleh :  Nesya Puspita Putri
 

Namaku Putri, aku biasa dipanggil Puput. Aku masuk salah satu universitas islam di Bandung. Hari pertama masuk kuliah, di kelas ku melihat sosok pria yg misterius. Dia tampan, sangat pendiam, putih, tinggi dan cukup menarik perhatianku juga rasa penasaranku. Hari demi hari ku lalui, rasa keingintahuanku tentangnya pun terjawab. Pria itu bernama Hilman, dia pintar dan aktif dikelas, aku kira dia orang yang pendiam, tapi ternyata tidak juga. Lama kelamaan lincahnya terlihat, dia bawel, gokil pula, dan yang paling aku terkaget itu dia seorang pemain biola.

Dengan berjalannya waktu kitapun saling mengenal satu sama lain, yang awalnya aku dan Hilman sangat kaku sampe kemudian kami menjadi teman dekat, bahkan lebih dekat dari sahabat. Aku selalu menceritakan semua kejadian yang menimpaku, dari cerita susah, senang, sedih, dan sebagainya begitu pula dengannya. Dia pria yang sangat baik dan mengerti aku. Dia tempat curhat yang asik, tempat sharing pelajaran yang menyenangkan. Dan pria yang penuh dengan kharisma, sehingga banyak perempuan lain yang kagum padanya.
 
Aku seperti buntut baginya, kemanapun dia pergi, aku selalu mengikutinya. Dari mulai dia futsal, main dengan teman temanya dan mereka juga temanku, sampai satu organisasi pun bersama. Dia yang selalu ada saat aku membutuhkan bantuan. Dari mulai meminta bantuan menyelesaikan tugasku, mengantarku pulang, sampai menemaniku jalan jalan. Seakan akan dia itu ambulan yang pada saat aku keluar dari pintu gawat darurat, dia selalu ada. Banyak orang yang menyangka kita pacaran. Oh... itu tidak mungkin. Hahahah

Sampai suatu hari, entah apa yang terjadi padaku? Ketika aku melihatnya bermain biola di taman kampus, hatiku berdegup kencang, tanganku berkeringat, lidahku kelu, bahkan kakiku sampai gemetar, tak mampu ku melangkahkan kaki untuk berpaling darinya. Ku tutup mataku agar aku mendapat ketenangan. Tapi saat ku terpejam.....
“Put, lagi apa berdiri disini?” serentak aku terkaget mendengar suaranya.
“Panas tau. Sini temenin aku latihan biola!” hilman mengagetkanku, kemudian kubuka mataku.

“eh... heheheh Hilman. Lagi diem aja, nyari tukang dagang nih laper.” Sanggahanku
“hahaha put... put... sejak kapan ada tukang dagang keliling masuk kampus? Ngaco nih kamu, saking laparnya ya? Kamu mah lapar mulu deh perasaan. Yuk, aku traktir makan. Hari ini aku jadi pemadam kelaparan kamu. Hahaha” ledeknya padaku
“eh... iya. Lupa. Hehehe asik.... makan.....” jawabku

Aku berusaha bersikap seperti biasa dihadapannya, entah sampai kapan aku harus berpura-pura dan berperang dengan hatiku sendiri. Oh... rasanya sangat tersiksa. Aku perempuan yang memang agak sedikit tomboy, aku yang cuek akan keadaan sekitarku, aku yang kadang memalukan diriku sendiri dengan tidak sadar, dan aku yang selalu bersikap paling heboh dan gokil diantara teman temanku termasuk juga hilman.Tapi sesaat kemudian, aku menjadi sosok yang pendiam, jaga image, salah tingkah, dan lain lain jika berhadapan dengannya. Oh.... itu sangat menyebalkan ketika secara tidak sadar aku menjadi orang lain yang amat sangat jauh berbeda dari kepribadianku jika ada dia dihadapanku.
 
Apa ini yang dinamakan cinta? Apa ini yang dinamakan kasih sayang? Apa ini....??? ssstttt.... sudah cukup sampai disitu pertanyaanku. Rasanya perutku lapar jika aku selalu berpikiran hal itu. Oh... tidak..... Aku mencoba berpositive thinking akan keadaanku ini. Ya, agar semuanya berjalan seperti biasanya. Hari demi hari ku lalui seperti biasanya, tugas kuliah yang menumpuk, pekerjaan rumah seperti pembantu rumah tangga, menjadi pembisnis coklat online, dan tentunya have fun dengan sahabatku Hilman walau aku harus merasakan perang batin jika harus berhadapan dengannya.

Suatu hari, saat kami sedang kerja kelompok salah satu teman perempuanku mendekati Hilman. Dia bertanya ini itu, ini itu, sampai bosan aku melihatnya bulak balik dihadapan Hilman. Geram rasanya melihat dia, ingin sekali aku menyingkirkannya. Rasa kesal melandaku saat itu, seperti masuk kedalam lubang yang berisi kantung pasir tinju yang siap ku hantam satu persatu. Aduh, perasaan ini timbul kembali. Aku benci.

Malam hari ku menulis puisi untuknya....

CINTA DALAM DIAM
Kumencintaimu dalam diam
Karena diamku tersimpan kekuatan harapan
Dan cintaku hingga saat ini masih terjaga
Mungkin Allah akan membuat harapan ini menjadi nyata
Ku ingin cintaku dapat berkata
Dikehidupan yang nyata
Namun jika tak memiliki kesempatan berkata
Biar semua in i tetap diam jika kau bukan untukku
Aku yakin Allah akan menghapus cintaku
Dengan berjalannya waktu
Dan memberi rasa yang lebih indah untukku
Yang menjadi jalan takdirku
Biar cinta dalam diamku ini
Menjadi memori tersendiri
Dan relung hatiku menjadi tempat rahasia
Kau dan perasaan cintaku ini


Puisi ini mewakili semua perasaanku padanya. Aku hanya dapat berkata melalui tinta, dapat berbicara melalui irama, dan dapat bercerita melalui karya. Satu satunya yang membuatku seperti orang bisu yaitu perasaanku ini. Aku tidak ingin terobsesi memilikinya, karena itu akan membuatnya pergi dariku. Cinta dalam diam yang memang tepat untukku. Dia tidak tahu akan perasaanku, sikapnya yang menunjukkanku bahwa dia hanya menganggapku sahabat.
Itu tidak masalah untukku, karena berada didekatnya sudah lebih dari cukup, melihat tawanya, mendengar suaranya, dan merasakan kehadirannya sudah membuatku bahagia. Aku mencintainya dalam diam, karena aku tak mau merusak semua ini.

Pada suatu hari di kampus, Hilman memintaku untuk menemaninya pergi ke suatu tempat. Ternyata ada sesuatu yang ingin dia beli, kita pergi ke pasar bunga dan membeli 1 rangkaian bunga mawar yang akan dia berikan untuk hari ulang tahu ibunya. Setelah dia mendapatkannya, dia petik satu bunga mawar merah untukku.
“ini buat kamu put.” Sambil memberikan bunga mawar merah itu
“lah? Buat aku? Untuk apa?” tanyaku terheran heran
“tanda terimakasih, karena udah temenin kesini” jawab hilman
“oh... ya, makasih” ku tersipu malu

Sungguh hari yang amat sangat luar biasa untukku.hahahaha aku mendapatkan satu bungan mawar dari seorang Hilman? Rasanya seperti melayang ke udara dersama awan awan putih selembut salju yang menjadi bantalanku, dan turun kembali ke bumi dengan pelang indah warna warni yang menjadi perosotanku. Its amazing. ya walau ku tau itu tak ada arti apa apa untuknya. Tapi untukku? Itu sangat berarti. Kusimpan bunga mawar itu diatas meja belajarku, disamping fotoku dan Hilman. Rasanya itu sangat serasi. Meja belajarku adalah tempat baru yang menyenangka ke 2 setelah tempat tempat menyenangkan yang ku lalaui dengan Hilman. Karena meja belajarku adalah saksi bisu dari semua pengakuan atas perasaanku. Setiap hari kutuliskan diary atas namanya, tak pernah ku bosan menulis nama Hilman dalam diary ku walau berjuta kali banyaknya. Dan fotoku dengan Hilman yang bersender bunga mawar merah menjadi pemandangan yang menyejukkan hati.

Tutup pintu hatimu untukku
Jika semua yang ku lakukan
Karena ingin memilikimu
Buka pintu kebencianmu
Jika semua yang ku lakukan
Hanya ingin mempermainkanmu



Aku masih bingung, apa yang harus ku lakukan? Sungguh ini sangat menyiksa batinku. Ketika pada suatu sore, setelah pulang kampu kami pulang bersama. Seperti biasa, jalur taman kota yang kami lewati. Karena suasana sore hari di taman kota sangat menyenangka. Ku berfikir disitu tempat yang tepat untuk mengutarakan perasaanku. Walau ku cegah adanya pertanyaan padanya seperti: apa pendampat Hilman tentangku? Bagaimana perasaan Hilman ke aku? Apa Hilman mau menjalin hubungan denganku? Tidak ingin ku lontarkan pertanyaan itu. Kami tertawa sepanjang perjalanan, dan dia memang bakat menjadi pelawak. Hahaha. Saat kami sedang berjalan santai di taman, tiba tiba.....
“aaaaa........” ku menjerit saat hilman mendorongku ke pinggir jalan.
Ternyata sebuah motor hampir menabrakku, dan Hilman melindungiku. Tapi saat ku lihat dia, ternyata motor itu menabrak Hilman. Betapa shocknya aku melihat dia tergeletak tak berdaya dijalan, dengan mata yang terpejam, dan tak sadarkan diri. Aku yang terjatuh dijalan kemudian bergegas lari menghampirinya, tak peduli betapa sakitnya kakiku terbentur batu. Dengan jalan yang terpincang pincang, ku kuatkan diri menghampiri Hilman.
“Hilman.... Hilman.....” teriakku padanya, sambil menolongnya.
Ingin ku berkata sesuatu, tapi lidahku terlalu kelu. Seakan hanya namanya yang dapat ku panggil dengan jelas dan lancarnya. Ya, hanya namanya saja. Air mataku meleleh membentuk anak sungai di pipiku. Ini adalah peristiwa yang sangat membuatku terpukul.
“Ya Alloh, tolong aku. Jangan kau ambil dia pergi dari sisiku dan sampai kau ambil dia ke sisimu. Apa yang harus ku lakukan tanpanya? Aku akan merasa bersalah, dan penyesalan yang amat sangat mendalam karena perasaanku tak dapat berkata dikehidupan nyata.”

Serentak ku panggil ambulan untuk membawanya kerumah sakit. Dia yang jadi ambulanku saat aku keluar dari pintu gawat darurat, sekarang aku yang memanggil ambulan untuknya? Sungguh menyedihkan. Aku terdiam sepanjang perjalanan menuju kerumah sakit. Entah apa yang harus aku lakukan untuk membantunya bangun kembali?apa canda tawa tadi adalah hal terakhir yang kulakukan dengan Hilman? Apa tadi adalah terakhir kalinya aku mendengar suaranya? Dan melihat nya? Aku mengingat semua kenangan bersama Hilman, kenangan manis yang tak akan bisa terlupakan.

Setiba dirumah sakit, kegelisahanku makin menjadi jadi. Setelah ku hubungi keluarganya. Aku menangis dalam dekapan ibunya, ya kami memang sudah akrab satu sama lain. Bahkan seperti anak dan ibu sendiri. Di luar pintu GAWAT DARURAT ku menunggu dengan kegelisahan, tatapan yang penuh dengan sejuta harapan pada satu orang yang keluar dari pintu itu. Semoga aku dapat menjadi ambulan saat Hilman keluar dari pintu gawat darurat, karena biasanya dia yang melakukan itu. Tapi kali ini, aku yang harus menggantikan tugasnya. Saat ada seseorang keluar.....
“dokter, bagaimana keadaan temanku? Apa dia baik baik saja? Apa dia selamat? Apa dia sehat sehat saja?” tanyaku pada dokter itu
“Maaf, kami tidak dapat menolongnya. Benturan dikepalanya sangat keras, tak ada darah yang keluar, tapi darah itu bergumpal banyak diotaknya.”

Serentak hal itu membuat harapanku menjadi hancur berkeping keping.
“Kami ingin melakukan pembedahan, tapi waktu yang tidak memungkinkan, dia menghembuskan nafas terakhir dan membaca dua kalimat sahadat dan memanggil nama “Put”. Siapa itu?” jelas dokter padaku
“ Put? Namaku Putri dok” sampai tersedu sedu ku berkata.
“ sungguh dia pria yang mengagumkan. Saat keadaannya sekarat, dia masih mengingat Alloh dan kamu”.
Lekas ku berlari menghampiri hilman yang sudah terbaring tak bernyawa. Air mataku semakin deras membasahi pipiku. Aku tak dapat berkata apapun lagi. Langsung keluarganya membawa dia kerumah, dan mengurus jenazahnya. Sungguh, aku tak ingin melihatnya dalam posisi di balut kain putih dan wajah yang pucat. Aku penakut, dan tak ingin melihatnya. Tapi ku kuatkan diri untuk selalu mendampingi disisinya sampai tanah terakhir menutupi kuburnya.

Hanya do’a yang bisa kulantunkan
Keikhlasan yang selalu ku genggam
Kekuatan yang jadi tumpuan
Dan kenangan yang menjadi senyuman


Perubahan kepribadianku serentak berubah, aku menjadi sosok yang pendiam, cuek, dingin, dan menjauh dari apa yang ada hubungannya denganku dan Hilman. Rasanya itu sangat menyiksa. Dan penyesalan terbesarku yaitu karena aku belum sempat mengutarakan persaanku sampai dia menutup mata. Teman temanku berkata padaku, bahwa Hilman sangat mencintaiku. Tapi dia tak mau mengatakannya karena takut merusak persahabat kita, dan yang paling ia tidak mau yaitu menjalin hubungan terlarang yang dapat merusak izzah dan iffahku. Hilman yang selalu hadir dalam mimpiku dan membuatku semakin bersedih.
Teman teman yang silih berganti menghiburku bahkan tak sanggup membuatku tersenyum. Bunga mawar merah dan foto yang terletak dikamarku menjadi tempat pelamunanku mengingat kenangan manis bersamanya. Semakin lama, semakin layu. Tapi tak ku buang, bunga itu ku simpan baik baik.

Ku jalani hari dengan kesendirian
Tanpa seorang sahabat yang mengisi ruang dan waktu
Rasanya ku ternanam menahan luka yang dalam
Hampir saja ku mati rasa padamu
Dan hilangkan relung hatiku

“ketika kau mencintai seseorang, katakan padanya. Tak usah takut akan apapun resikonya. Tapi ingat, janganlah kamu memberinya pertanyaan apapun. Itu akan membuatmu gelisah. Cukup dengan kau jujur atas perasaanmu, itu sudah sangat mengurangi beban hatimu.”

Satu tahun kemudian, tetap tak ada perubahan padaku. Aku belum kembali seperti dulu, tak ada aku yang ceria, tak ada aku yang bawel, tak ada aku yang gila. Seakan semuanya terkubur bersama kenangan manis disisinya. Pada pagi hari, 14 februari 2013 saat pergi kuliah aku melihat sosok pria yang sedang memegang biola. Aku terkaget saat sosok Hilman yang ada dihadapanku. Tapi kulihat kembali dengan kesadaranku, ternyata bukan. Aku melewat dihadapannya dengan sedikit tersenyum, diapun membalas senyumanku. Pria itu membuatku penasaran. Pada sore hari saat pulang kuliah, hal yang memalukan terjadi. Pada saat itu aku sedang asik sms-an dengan temanku. Tiba tiba saat ku berjalan....
“ awas.....” teriak seorang pria di hadapanku
Sejenak ku terdiam dan melihat kedepan. Hampir saja aku terjatuh pada kubangan air. Hahaha itu sangat memalukan. Saat kulihat pria itu, ternyata dia pria yang tadi pagi ku temui.
“hati hati ya jalannya” dengan lembut dia memperingatkanku

Rasanya sangat memalukan, kejadian yang tak kulupakan. Rasa penasaranku padanya makin menjadi. Aku cari tahu tentangnya. Dia bernama Adit, dia adalah kakak tingkatku. Dan ternyata kami satu jurusan. Rasanya aku belum pernah melihatnya. Ya, bagaimana aku tahu, setelah kuliah saja aku pulang kerumah karena tidak ada tempat lagi yang kutuju. Dulu selagi Hilman ada, banyak tempat yang terjelajahi bersamanya. Seakan akan, semua tempat itu menjadi neraka untukku, dan aku tak ingin pergi kesana lagi.

Hari demi hari ku lalaui seperti biasa, sedikit ada perubahan. Aku mulai tersenyum, setelah kejadian memalukan itu. Teman teman sekelasku senang akan adanya perubahanku. Aku selalu memata matai Adit, saat dia di kampus, di kelas, bahkan saat bermain biola. Rasanya sosok hilman masuk kedalam dirinya. Oh.... tidak mungkin, tak ada yang bisa menandingi Hilman dimataku. Tempat favorit Hilman main biola itu di taman kampus, suasana yang sejuk sangat mendukung. Tapi mengapa Adit juga sering berlatih disitu? Apa benar Adit adalah jelmaan dari Hilman? Oh.... sungguh mengherankan.

Makin kesini, aku makin mencari tahu tentangnya. Dari mulai tempat tinggalnya, jadwal kuilahnya, tempat favoritnya, hobinya, sampai makanan kesukaanya. Nah loh? Ko mirip Hilman ya? Tidak mungki itu Hilman, tapi semuanya ada hubungannya dengan hilman. Ku yakinkan bahwa Hilman adalah Hilman, tak ada orang yang menyamainya. Dan Adit adalah Adit, orang yang kebetulan, ya seperti itu adanya. Rasa kagumku pada Adit semakin besar, tapi bukan berarti ku melupakan Hilman. Tidak sama sekali. Karena dia abadi tersimpan disisi lain relung hatiku. Aku yang selalu menguntupi Adit kemana ia pergi. Kejadian yang sama saat dulu bersama Hilman, tapi perbedaannya aku menguntip Adit diam diam. 

Selalu saja begitu setiap hari. Ku luangkan waktu untuk mengikutinya pergi. Sampai ku berpikir aku akan memberikan satu bunga mawar merah untuknya. Aku tak ingin perasaanku ini menyiksa diriku seorang diri. Mungkin jika ku utarakan padanya, dia bisa sedikit mengerti aku dan mengurang bebanku. Dan akhirnya kuputuskan untuk mengutaraknnya, aku mebawa satu tangkai bunga mawar yang menjadi kekutanku yang mengingatkanku pada Hilman. tapi saat ku berjalan di depan rumahnya, aku melihatnya bersama perempuan lain. Dia mengajak perempuam itu kerumahnya. Apa perempuan itu.....? tak sanggu ku lanjutkan kalimatku. Bunga mawar yang ku genggam, serntak jatuh bersama semua anganku. Hancur lebur, membentuk butiran debu.
“apa ini takdirku? Apa Alloh memang menahan perasaanku hanya untuk Hilman. Dan sengaja membuatku hancur karena Adit.” Ku duduk terdiam memetik kelopak bunga mawar.

Memang benar, cintaku pada Hilman tak memiliki kesempatan untuk berkata. Bukan berarti dia bukan untukku, tapi memang Alloh mencegahku untuk mengatakan dikehidupan yang nyata. Dan mungkin memberi kesempatanku berkata di kehidupan yang abadi, selamanya. Bunuh diri? Hahaha bodoh. Itu adalah kata yang ku benci. Mungkin Alloh merencanakan sesuatau dengan Hilman. Dia yang tak ingin aku menjalin hubungan terlarang (pacaran) dengan lelaki lain, karena dia mencintaiku. Dan hanya ingin bersamaku di ikatan yang halal bagiku.
Biarlah saat ini ku belajar jauh darinya di dunia ini, dia mengajarkanku kesabaran dan keikhlasan. Mungkin dia sedang menguji cintaku, dia sengaja membiarkanku hidup agar rasa rinduku semakin dalam untuknya. Dan suatu saat nanti jika kita bertemu, rindu itu akan lenyap dan berubah menjadi butiran cinta juga kehidupan yang baru.
“ Jangan takut, aku akan mencintaimu seribu tahun, dan akan mencintaimu seribu tahun lebih"

KHALIFAH SEJATI DARI ARSY

KHALIFAH SEJATI DARI ARSY
Oleh : Kiki Ayu Humairah
Keberangkatanku ke negeri seberang bukan untuk menjauh dari ibu dan paman yang selalu ingin menikahkanku dengan saudagar kaya di daerahku, bukan juga melarikan diri atas segala beban keluarga yang disandarkan padaku, aku hanya ingin seperti anak seusiaku yang tidak terusik ketika mereka asik mencari ilmu, bermain kesanaa-kemari sesuka hatinya, namun aku seperti jaminan yang disodorkan paman untuk melunasi hutang-hutangnya. 
Sedangkan ibu tidak bisa membelaku sama sekali, mana mungkin aku yang masih begitu belia harus menikah dengan orang yang lebih pantas ku panggil ayah, yah . . .saudagar itu. Namun kini aku meyakinkan diriku berkat beasiswa kuliah di Malaysia membuatku sedikit terbebas dari ular-ular yang akan menerkaku terutama saudagar kaya yang sombong itu, pak lukman. Tapi aku tetap mengkhawatirkan ibuku, bagaimanapun juga ibu adalah orang yang sudah membesarkanku sendiri tanpa ayah yang aku sendiri tidak tau siapa ayahku. Banyak yang mengatakan aku ini anak haram tidak jelas asalnya, jika ku tanyakan ibu, maka ibu hanya menjawab enteng bahwa ayahku sudah mati namun sampai usiaku 18 tahun aku belum pernah lihat fotonya, dalam akte kelahiranku saja memakai nama pamanku yang turut andil dalam membesarkanku meski demikian paman lebih sering membebani ibu itu yang aku rasakan.

Pagi itu begitu cerah, awan begitu bersahabat denganku namun kondisi ini sama sekali tidak bisa sepenuhnya mebuatku senang, ibu sama sekali tidak bahagia apalagi bangga dengan prestasi dan beasiswa yang ku dapatkan, dan paman begitu tau aku akan pergi sekolah ke malaysia malah memakiku dengan bahasa kasar dan menyakitkan, yang katanya aku tidak tau malu, tidak punya rasa terimakasih, tidak kasihan pada ibu, aku hanya anggap kata-kata paman sebagai angin yang sesaat kemudian aku kosentrasi dengan studyku, agar aku bisa membahagiakan ibu. Kini pesawat sudah meluncur jauh dari bumiku, bumi tempatku bernaung, jangankan diantar ke Bandara, keluar rumah saja ibu tidak memandangku sama sekali, hanya sekali bercap hati-hati itu saja dengan sangat terpaksa, ibuku memang orang yang keras kepala dan mudah sekali marah, namun aku tau ibuku adalah orang baik yang begitu mencintaiku meski tidak pernah ditunjukkan, itulah ibuku. Meski demikian aku sangat mencintainya.

Setelah sampai di Malaysia, aku begitu bersemangat dengan dunia baruku, belajar, bersama orang-orang asing yang begitu menghargai aku tidak seperti dirumahku yang penuh dengan kata-kata kasar dan menyakitkan, dimalaysia aku tinggal disebuah asrama milik kampus, aku belajar dengan tekun agar bisa membayar hutang-hutang paman ke pak Lukman, dan supaya paman tidak memaksaku untuk menikah dengan pak lukman lagi, keadaan ini semakin membuatku tenang karena ternyata tidak sedikit pelajar indonesia yang dikirim ke malaysia dan mendapat beasiswa, aku memang sengaja menjauhkan diri dari glamornya hidup di kota agar lebih kosentrasi pada study, namun kenyataan berkata lain teman-temaku tidak sedikit yang mempengaruhiku, awalnya mereka menyuruhku melepas jilbab yang sudah jadi kewajibanku, aku menolak untuk menuruti mereka, namun mereka tidak kurang akal mereka mengajakku ke club malam dengan alasan untuk refresing dan aku masih bsa untuk menolaknya, kondisi semakin tidak kondusif namun aku tetap dalam koridorku yang tenang dan pada tujuan awal ingin melepaskan diri dari jeratan hutang dan menikah dengan pak lukman, kini tidak sedikit teman-temanku yang mengajakku untuk maksiat bahkan sampai ada yang membawa lelaki ke kamar asrama, aku begitu heran dengan mereka yang semakin mursal dan mengikuti alur hidup yang baru saja mereka kenal di sini.

Ternyata tidak mudah, namun aku berhasil melewati semuanya, sampai hampir selesai aku kuliah aku tetap masih seperti dulu, yah seperti nawa yang dulu, aku tetap memakai jilbabku, aku tetap sholat lima waktu meski tidak ada adzan disini, aku tetap bertahan dalam koridor wanita muslimah yang dibentuk oleh guruku ngaji di kampung dulu, karena meski ibu yang tidak tau agama dan paman yang jauh dari agama namun ibuku ingin aku mejadi perempuan yang jauh lebih baik darinya, itulah ibu, meski dia seorang yang jauh dari agama namun tidak ingin melihat anaknya sepertinya, ibaratnya meski ibunya pencuri namun ingin anaknya jadi kiai, meski ibunya seorang pemulung namun ingin anaknya jadi pengusaha yang sukses, meski ibunya seorang pencuri namun ingin anaknya menjadi wanita muslimah yang jauh dari kejahatan. Ibu memang tidak sebaik orang tua pada umumnya namun dialah satu-satunya orang tuaku, untuk apa aku berjuan jika bukan untuk ibu, yang entah kemana lelaki yang mengaku ayahku namun rupanya saja aku tidak tau, dan Cuma ibu yang merawat dan membesarkanku.

Sudah hampir tiga tahun aku berada di Malaysia dan tidak pulang sama sekali, hanya kadang aku sempatkan memberi kabar pada ibuku melalui televon tetangga yang rumahnya berdekatan, karena ibu tidak punya televon begitu juga paman, namun sudah sebulan aku tidak memberi kabar lagi karena sibuk dengan tugas akhirku, ketika aku sedang terlelap di asrama, handphone ku berdering kencang, nomor baru yang tidak ku kenal, aku angkat perlawan dengan ku awali salam, seseorang di balik televon itu nerocos tanpa membalas salamku.
“nawa, ini bude ani, pulang ya nduk kasihan ibumu, ada laki-laki yang mengaku ayahmu datang lalu menyakiti ibumu” aku kaget mendengar ucapan orang yang ada dalam televon tersebut yang ternyata adalah tetangga yang sering aku mintai tolong jika ingin televon ibu di kampung.
“bude nawa bingung dengan ucapan bude, kata ibu ayah nawa sudah meniggal, kalau lelaki itu mengaku ayah nawa berarti ibu sudah berbohong, lalu bagaimana dengan paman bude? Apa paman tidak menolong ibu?” aku begitu khawatir mendengar penjelasan dari bude ani yang mengatakan seorang lelaki telah menyakiti ibuku.
“pulanglah nawa, kasihan ibumu tidak ada yang bisa membelanya selain kamu, kamu kan tau pamanmu itu seperti apa, sebenarnya sudah seminggu ini lelaki itu berada dirumahmu dan menyiksa ibumu, namun bude dilarang ibumu untuk memberi tahumu, maafkan bude nawa” ucap bude ani dengan nada terisak

Tiba-tiba ada dendam yang tiba-tiba menelusuk dalam dadaku, betapa bencinya aku dengan laki-laki yang dideskripsikan oleh bude ani tadi, betapa bejadnya dia, sudah meningalkan aku dan ibu kini dia kembali hanya untuk menyiksa ibuku lagi, apa maunya?, jika aku bertemu dengannya akan aku ludahi dia, tidak pantas lelaki seperti itu dipanggil ayah olehku tidak heran jika ibu mengatakan ayah sudah mati, karena dia lebih baik mati daripada hidup dan meroepotkanku dan ibu, aku hanya memberi isyarat pada bude ani kalau aku akan pulang dengan segera, ini karena sudah waktunya aku tau siapa lelaki yang mengaku ayahku itu. Keesokan harinya aku terbang dengan pesawat paling pagi, sudah tidak sabar menghantam orang biadab itu. Ketika sampai, aku langsung beranjak memasuki rumah, aku melihat ibu yang terkapar dilantai dengan bibir sebelah kanan yang sedikit sobek dan berdarah serta hidungnya yang mimisan, aku kemudian merangkulnya, seorang lelaki setengah baya yang tinggi tegap menghampiriku dan ibu, dia tertawa sambil memandangiku dengan wajah bringas seperti singa.
“hei kau, jadi ini anakku?? Cantik benar seperti ibumu waktu masih muda dulu, bahkan kau lebih cantik nak” ucap lelaki itu sambil memegang daguku, dengan spontan ku tangkis tangannya dengan wajah yang penuh amarah.
“biadab, kau apakan ibuku?, kau tidak pantas memanggilku nak, aku bukan anakmu”
“hahahahaha, ternyata kau belum tau? Aku memang bukan ayahmu, siapa ayahmu? Coba tanya ibumu, apa dia tau siapa ayahmu, aku yakin ibumu tidak akan bisa menjawabnya” ucap lelaki itu, namun ibu langsung berontak dari kelemahannya, sikap ibu langsung berubah menjadi bringas mendengar ucapan lelaki itu, aku bingung dengan maksudnya, aku mencoba memikirkan ucapan lelaki itu namun aku tetap tidak paham, hingga ku tanyakan padanya.
“apa maksudmu berkata demikian?” tanyaku pada lelaki itu, namun sebelum lelaki itu menjawab ibu langsung memotongnya, “sudahlah nawa jangan kau dengarkan omongannya, dia hanya ingin menghancurkan kita nak” ucapan ibu semakin menjadi teka-teki untukku, lelaki itu semakin lebar tawanya, dan puas dengan melihat aku dan ibu,“. Tidak lama dari itu, lelaki itu berkata “kau ini apa tidak tau kalau ibumu dulu itu pelacur, dan melahirkan anak sepertimu?, mana mungkin dia tau siapa ayahmu, karena begitu banyaknya lelaki yang bersama ibumu, kau ini anak haram, seharusnya kau bersyukur aku mau mengakuimu sebagai anak.”

Ucapan itu begitu mengiris hatiku, serasa empeduku telah pecah dan begitu pahit mendengarnya meski ucapan bajingan itu belum tentu benarnya namun tangis ibu seakan mengiyakan jawaban itu, dan aku begitu terpuruk, ya tuhan aku anak haram, yang tidak jelas ayahnya, sedangkan apa pantas aku menyalahkan ibuku?, siapa yang seharusnya ku benci, ibu atau siapa?, mana mungkin aku mebenci wanita yang sudah membesarkanku, aku hanya terkulai lemas, dan ibu merangkulku, memohon maaf atas kesalahan masa laluya, sedangkan lelaki itu tertawa puas melihat aku dan ibu tersakiti, sebenarnya dendam apa dia padaku dan ibu sampai menghajar ibu dan mengaku sebagai ayahku kemudian menuduhku anak haram, sedangkan tidak ada yang bisa membelaku dan ibu. Dan lelaki itu kemudian pergi keluar dari rumah kami, dengan tawa yang menghiasi bibirnya seperti telah memenangkan undian hadiah. Ibuku tidak hentinya meminta maaf padaku, aku tetap memikirkan, siapa aku ini, apa pantas aku dengan beasiswaku, prestasiku, sedangkan aku tidak memiliki latar belakang yang jelas.

Malamnya ibu mengantarkanku dalam lalapnya tidur dengan kesedihan yang masih berlarut-larut, namun aku tetap tidak bisa menyalahkan ibu, karena ada banyak alasan ibu melakukan hal itu. Setelah ibu keluar dari kamarku, tidak lama paman pulang, entah kemana dia seharian sampai tidak tau yang terjadi padaku dan ibu, kemudian tidak lama, aku tidur seseorang dengan kasar membawaku, aku langsung tergopoh ketika seseorang mengangkatku dengan paksa, dia adalah lelaki yang tadi siang sudah menyakiti ibu dan aku, aku tidak tau mau dibawa kemana, aku memberontak namun tenagaku tidak begitu kuat, sedangkan ibu tisak bisa menahanku karena dikunci dikamarnya, aku teriak meminta tolong pada paman namun ternyata paman telah bersekongkol dengan lelaki itu, pamanlah yang membawa mobil, seangkan lelaki itu memegangiku di belakang. 
Aku tidak tau akan dibawa kemana, yang aku tau sesuatu yang tidak baik sedang menungguku, aku menangis di sepanjang perjalanan, namun tetap tidak mereka hiraukan tangisku. Ternyata aku dibawa kerumah pak lukman saudagar kaya itu, disana wajah buas itu menyambutku, aku semakin menangis, pak lukman sangat senang melihatku, lalu mereka membawa ke kamar yang sudah disiapkan sebelumnya, kamar itu wangi, namun bagiku hanya bau bangkai busuk para lelaki itu, ketika pak lukman akan melucuti bajuku, aku tendang sampai dia lemas, lalu aku melarikan diri namu aku tertangkap oleh paman dan lelaki biadab itu, sampai pada akhirnya aku jadi korban kebringasan pak lukman hanya untuk melunasi hutang paman dan juga kepuasan pak lukman, seakan sudah tidak ada harganya aku ini, sudah tidak jelas asal-usulnya, kini aku hanya akan jadi bulan-bulanan masyarakat karena sudah tidak suci lagi, jilbab yang dulu jadi kehormatanku kini sirna dengan bau busuk tubuhku.

Melihat kondisiku ibu tak hentinya menangis setiap hari, ibu sangat mengkhawatirkan kondisiku yang seperti ini, takut kalau-kalau aku akan depresi dan tidak bisa melanjutkan hidupku, namun semakin aku tersakiti menjadikan mereka semakin senang, aku tidak tau apa maksud mereka apa, pamanlah dalang dari semuanya paman yang menjualku pada pak lukman, paman juga menjadikan aku sebagai wanita panggilan dengan ancaman akan membunuh ibuku jika aku menolaknya, dengan dandanan yang tidak sepantasnya tubuhku dijual oleh paman, dan keuntungannya untuk paman dan lelaki biadab tersebut, kondisiku yang sudah bebeda dari awal, bahkan mereka menghinaku dan ibu bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya jika ibunya seorang pelacur maka anaknyapun sama, kata-kata itu sangat sakit namun sua tidak bisa ku tolak, aku tidak punya kekuatan untuk menolak dan melarikan diri.

Suatu hari ketika aku akan melakukan pekerjaanku, aku mampir ke sebuah mushola untuk bersuci kemudian sholat, seseorang dari jauh memperhatikanku, pemuda masjid yang sedang mengajar ngaji di mushola tersebut, aku hany diam menundukkan wajahku ada rasa malu dengan penampilanku ini, aku memang sudah lama melepas jilbabku semenjak berganti profesi, mungkin dia aneh melihat pelacur sholat, apalagi dandananku yang terlihat kurang sopan dimatanya, setelah sholat aku buru-buru keluar dari mushola tersebut, ada perasaan malu dan jijik pada diriku sendiri, beberapa lama setelah aku keluar dari mushola tersebut dia menghentikan langkahku, aku tersentak mendengarnya memanggilku, dari mana dia tau namaku sedangkan ini untuk pertama kalinya aku melihat pemuda tersebut, “ nawa ya?”, tanpa memandangnya aku berbalik, seorang pemuda bersih menyapaku tanpa aku tau apa maksudnya, kemudian dia menjelaskan bahwa dia adalah teman nawa waktu mendapat beasiswa keluar negeri dari pemerintah, namun dia dikirim ke Sudan sedangkan nawa ke Malaysia, pemuda tersebut memandangku heran, dan menanyakan kemana jilbab yang selalu menemaniku, kenapa aku sudah tidak mengenakannya lagi dan malah berpakain tidak sopan seperti itu, aku menangis mendengar pertanyaan itu, aku sangat malu, bukan hanya jilbab dan busana muslim saja yang ku lepas namun kehormatan yang susah payah ku jaga selama berada di malaysia kini telah aku jual, aku tidak memiliki semuanya termasuk harta paling berhargaku, sudah dirampas paksa oleh bajingan lukman itu, dan lelaki hidung belang yang membayar pamanku, aku nyaris mengatakan itu semua pada pemuda tersebut karena sudah lama juga aku tidak mengeluarkan isi hatiku hanya kepada tuhan saja, itupun dengan mencuri waktu sholat agar tidak dipukuli pamanku.

Pemuda tersebut lalu seakan tau apa maksudku, dia tidak bertanya lagi namun kemudian dia ulurkan tangannya, “nawa, aku sudah tau apa yang menimpamu dan ibumu, aku sangat prihatin dengan semua itu, berharap aku bisa menolongmu dan ibumu, ijinkan aku menikahimu nawa?”. Aku ternganga mendengar ucapannya, aku kemudian menatapnya tajam, memberi isyarat ketidak setujuanku padanya, aku malu bahkan sangat malu apa pantas pelacur sepertiku menjadi istrinya, aku yakin ini hanya bagian dari keprihatinannya saja padaku, namun sekali lagi dia menegaskan bahwa dia memang sudah tau siapa aku sebenarnya dan juga siapa ibuku, aku pikir mungkin dia akan menyelamatkanku dari lembah setan yang saat ini menjeratku dan ibu namun apa boleh aku melibatkan rang lain dalam masalahku, menikah bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani dan juga bukan karena prihatin dan kasiha saja, karena menikah adalah janji kita terhadap tuhan, aku yang sudah jauh dari agamaku mana boleh menikah dengan pemuda baik-baik dan alim sepertiku, sekali lagi aku tegaskan bahwa aku menolaknya. Kemudian aku pergi dari tempat itu tanpa megucap apapun setelah menolaknya.

Malamnya di tempat yang biasa aku mencari hidung belang dia datang kembali padaku, namun kali ini dia tidak menanyakan perihaloertanyaan yang tadi malam yang mengagetkanku dia datang pada paman yang sedang mengawasiku dari jauh bersama lelaki yang dulu pernah mengaku sebagai ayahku dan kini bersekongkol dengan paman, setelah berbincang-bincang agak lama dengan paman, pemuda tersebut mendatangiku dan agaknya paman da lelaki itu tertawa bungah, entah apa yang dia katakan pada pamanku, lalu dia mendatangi aku yang sudah tida sabar ingin menanyakan apa yang terjadi pada pemuda tersebut, setelah pemuda itu datang “ada apa ini?, kenapa pamanku begitu senang, apa yang kau katakan padanya?”,.
“aku melamarmu pada pamanmu, dia menertawakanku, au katakan padanya aku jika lelaki-lelaki hidung belang itu bisa membelimu hanya semalam saja, aku akan membelimu seumur hidup, dengan biaya semaunya.”
“kau gila, aku tidak mau menikah denganmu, sudah jangan libatkan dirimu dengan masalahku, aku akan sangat membencimu” ucapku padanya, meski dalam hati aku begitu kagum denganya yang mau menerima kondisiku yang sudah tidak baik lagi untuk pemuda sepertinya, apalagi untuk dijadikan istri. 
Dia tetap tenang lalu menyodorkan kertas yang didalam surat tersebut berisi tentang perjanjiannya dengan paman bahwa dia akan menkahiku dengan tanpa syarat apapun jika aku tidak meninginkannya, paman langsung setuju tanpa melihat bahwa surat tersebut ditujukan persyaratannya untukku bukan untuknya, lalu peuda tersebut mengulurkan tangannya, “namaku alim, menikahlah denganku, akan ku cintai kau dan ibumu sepenuh hatiku”. Aku terenyuh mendengarnya, kemudian aku menerima lamaran itu dengan berbalut air mata, alim juga akan memasukan paman dan partner paman ke penjara, kemudian dengan acara yang begitu sederhana aku menikah dengan alim di mushola tempat alim mengajar mengaji, ternyata dia adalah seorang dosen disebuah universitas islam di Malang, dan setelah dia memasukkan paman kepejara diamengajakku dan ibu ke Malang, tempatnya bernaung yang sebenarnya, yah...dialah alim suamiku, seoran laki-laki yang mengeluarkan aku dari kotornya dunia malam yang ku jalani selama ini, untuknya “ketika dia memandangku aku merasa cantik, ketikadia tersenyum aku merasa sedang menari dihadapanya, ketika dia marah aku merasa sedang memegang tangannya dan memeluknya erat-erat, dan ketika dia mencintaiku mataku seakan dipenuhi air mata. Dia membuatku sadar aku dibuat oleh tuhan untuknya dan dia untuku, sang khalifah sejati dari arsy hadiah dari tuhan atas segala perjuanganku selama ini”

Puisi "PEMIMPI DARI SUDUT NEGERI"

PEMIMPI DARI SUDUT NEGERI
Oleh : Pangeran

Pelipur lara dalam gelap terhibur dengan dongeng perajut mimpi yang hampa
Menabur harap dan ingin dalam balutan bunga tidur yang tak nyata adanya
Memberi rasa pijaki bumi terjal yang menentang raga rapuh tak bermahkoda
Terombang-ambing dalam aurora yang bertebaran mewarnai disetiap doa
Nyata dan fana berharmonisasi dipelupuk benak lugu tak berdosa
Tertanam diakhir seperti tiang pengusir tali-tali rapuh dunia

Dulu, mimpi terasa berteman abadi dengan angan-angan
Tak tentu yang harus dinyatakan dalam fananya dunia yang rentan
Semua keinginan pernah tiba-tiba menjelma nyata menjadi sebuah landasan
Menjadi sandaran bagi penjuru sudut kota yang tak mampu untuk menemukan
Sebuah kehampaan tentang keadilan yang bisu dalam syair-syair keindahan

Apakah angan ini hanya pemilik bunga mimpi yang berkuasa ?
Tanah subur terasa gersang terhampar nyata di pusat negeri tercinta
Tapi kenapa semua kesejukkan ini terasa fana menusuk jiwa ?
Mungkinkah harap hanya ada tuk penggerak yang tak bermimpi ?

Tubuh ini terhempas keras menggetarkan dinding rapuh pembatas raga
Tetes keringat menyala menjadi saksi untaian dilema hidup yang nyata
Kurus jasmani menggambar jelas sebagai fakta tentang cerita yang ada
Membalut bongkahan usaha tak kunjung henti dari ujung tempat terlupa
Mencoba bangun dari rebahan mimpi yang mulai berkicau kembali dijiwa
Semua ini nyata !, hanya yang tertatih derita yang berdoa dalam balutan usaha
Mereka yang paham arti dari sebuah makna yang berteman sejati dengan mimpi

Bengkulu, 29 Mei 2016

Puisi "KETABAHAN BERSAMA HIJRAH"

KETABAHAN BERSAMA HIJRAH
Oleh : Pangeran

Sinar potret aksara pelangi menggoda rasa
Kabutkan putih dan tenggelamkan cahaya mentari
Warna hitam datang dan berdiri kokoh diatas jahiliyah dunia
Mengundang oleh-oleh raga yang ikuti sandiwara semu
Seakan tertawa akan hilangnya naluri dan arah
Hanya pasrah di ombang-ambing bayang hitam sang api jahanam

Semua tahu ini hanya fatamorgana
Namun semua membisu tertelan potret sandiwara dunia
Seolah-olah bayang semu lembaran-lembaran putih telah hilang
Seolah-olah hamparan kebenaran naluri hakiki telah terbuang
Sedih . . Luka . Tetapi ini lah goresan tinta ujian
Sebait coretan dari perintah yang Kuasa

Inilah langkah tegar dari cap kaki segelintir keikhlasan
Mencoba kuat hadang semua hitam yang memburu
Mencoba kebal getarkan semua benalu yang menggigit
Inilah hijrah tangan-tangan berlumur hitam
Mencoba basuh genangan hitam yang pernah terusik
Mencoba rangkul sapaan putih yang pernah terusir
Demi selimbuti dan sirami naluri dihati
Agar bisa menuang detik-detik metamorfosa dunia surga abadi

Puisi "KATA YANG HILANG"

KATA YANG HILANG
Oleh : Pangeran 
Pudar cahaya berteman dengan kabut bergentayang
Mengusik serpihan ingatan yang tak juga berlalu
Dunia tak abadi, tetapi abadi selalu sejalan bersama semu yang bertopeng
Entah dimana, hingga terasa sama tanpa beda
Hingga pahit rasa tertelan dan manis terbuang menggoyang dada yang retak

Kenapa semua angin berhembus ?
Kenapa semua rumput bergoyang ?
Dunia tak semu, tetapi kefanaan selalu berada menuntun kenyataan
Kini satu musim telah berganti, bunga indah pun gugur berganti
Hingga senja pun tertatih terbiasa kosong dalam sunyi nya kesedihan

Pernah . . .Matahari terbit dan rebah bunga turunkan tujuh warna pesona langit
Undang semua penjuru bumi dibalik sandiwara waktu yang retak
Kabarkan semua hamparan semesta dibalik oleh-oleh penghuni kebanggaan
Mimpi pun terasa perkasa meski abadi hanya omong kosong semata
Namun . . .Kini satu musim telah berganti, potret semu pun ditelan harus
Hingga lenyap berganti dengan hikmah penguasa nikmat
Memandangsatu ungkap yang membatu tak ikhlas tuk terlepas

Maaf, seribu ucap tak terungkap nyata
Namun hanya ini yang bebaskan serpihan yang pernah  terlatih pilu
Selamat tinggal. . . wahai senja kuucap dalam potret luka dunia

Puisi "TRAGEDI 20 JANUARI"

TRAGEDI 20 JANUARI
Oleh : Pangeran

Langkah rapuh rajut ritme waktu yang menyapa
Hingga sekeping aksara terluka membaur hina di lantai jiwa
Menebar teriak amarah dari genangan potret dunia
Bercerita tentang kenangan yang terkikis penuh harapan hampa

Palung hati ini, terasa lupa dan amnesia
Tertatih dalam hipnotis dawai fatamorgana
Terbiasa oleh luka perkasa yang datang berkata
Ia, seolah tak ingat murka bejana detik yang bercerita
Menyambar, hapuskan bayang yang penuh makna

20 Januari, tiga tahun silam ditanggal yang sama
Masa manja tersirat tentang ujung kasih sayang yang berakhir pilu
Bayang mereka yang tertidur dalam dinginnya lautan malam

Mungkin pudar-pudar terlukis dalam ingatan tegar yang mulai lupa
Bahkan tangis beriring memohon doa di langit senja yang sombong
Meminta, menyembah agar kembali terlintas lagi
Tentang siapa mereka yang hilang di lautan Bengkulu

Bengkulu, 3 Oktober 2016

Puisi "KISAH TENTANG KITA"

KISAH TENTANG KITA
 Karya :Pangeran

Di bawah langit merah muda yang perkasa
Di bawah pohon akasia yang menyapa
Seberkas cahaya membuat aksara bergejolak membuta
Membuat getaran yang seakan robek dada hampa
Hingga hipnotis setiap kata yang berani bercerita

Lantunan syair seakan bergema memecah hening pagi itu
Dalam jelmaan angin dingin, benak ini terasa pilu
Teringat sosok bayang lembut yang datang dikala pagi tersipu
Hingga senyum malu-malu terasa lupa dan membisu

Sentuhan lembut jemari dari pemilik harapan akhirnya datang
Mengusik kesendirian yang tertatih luka dan terbiasa kosong
Kini, kehadiranmu menjadi lentera penerang dalam gelap
Menuntun raga fana laksana nahkoda terhebat dunia

Kamu, aku adalah dua masa yang bertemu di bawah langit waktu
Mengukir cerita dalam ungkapan cerita sederhana
Melewati retme detik yang mulai cemburu
Melukis kebersamaan dalam pribahasa sempurna
Melengkapi jiwa-jiwa yang dulu hanya sendiri

Bersama dirimu adalah kesempurnaan
Aku, kamu adalah satu
Satu kenangan dalam bait cerita waktu


Bengkulu, 5 Oktober 2016