Pages

Senin, 22 April 2013

Cerpen Cinta Romantis

Selasa, 09 April 2013

Part 2 DREAM HIGH (You should Paint My LIFE )

                Jemari tanganku terasa berat untuk aku gerakkan, pikiranku terasa tidak beraturan seperti ombak. Itu sangat perih. Aku berusaha membuka mataku secara perlahan“Aku dimana ?”tanyaku dalam hati. Aulia !! kenapa dia ada disini, dia tertidur. Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Apa aku ada dirumah sakit ?.  tubuhku memang terasa berat, tetapi aku berusaha berdiri dan memindahkan Aulia yang tertidur lelap disebelah ku Ke tempat tidur “Apa dia yang menjaga ku”ungkapku dalam hati. “Kau !!!, apa kau tidak apa-apa ?”tanyanya sambil bangun dan mendekatiku, dia memegang kepalaku dan menanyakan nama nya. “apa kamu masih ingat aku ? siapa namaku ?”ucapnya. aku hanya tersenyum dan berkata “ Aulia….. Aulia Septriasari”. Dia langsung memelukku, dan saat itu dia malah menangis. Jujur saja selama ini aku tidak pernah melihat nya menangis si siapapun. Tetapi kenapa dia khawatir kepadaku ?. Beberapa hari setelah itu, dilaksanakan festival Band di SMA 1. Semua orang datang ke acara itu, aku sebenarnya tidak tertarik. Tetapi, Aulia tiba-tiba saja datang tanpa diduga menjemputku. “Mereka belum berubah” Teman sekelasku masih saja membenci Aulia, saat kami berdua datang mereka semua langsung menjauhi kami. “tidak terlalu masalah kan kalo dibenci ?, kita bisa nonton paling depan”ucap  Aulia kepadaku dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. “dia sangat berbeda “jujurku dalam hati. Acara Band terlihat sangat meriah, tetapi “ah, kenapa kepala ku sakit” Sakit sekali rasanya.”Aulia, aku kebelakang dulu ya”ucapku. Kepalaku terasa bergetar kuat, aku berlari mencari tempat sepi. “ada apa dengan dia ?”tanya Roni yang baru datang kepada Aulia. “tidak tahu”
                “Sakit !!!”gumamku sambil memegang kuat kepalaku yang terasa mau pecah. “ho ho” nafasku tidak beraturan, pandanganku berubah menjadi kabur. “darah !!” tiba-tiba saja darah menetes keluar dari hidungku. “apa yang terjadi ?” , cemas dan takut bercampur dalam rasa sakit. Aku mengambil sapu tangan yang ada disaku ku dan menutup hidungku yang masih mengeluarkan darah. Tidak ada satupun yang terpikir olehku. Aku berlari tidak karuan langkahku semakin lama semakin goyah, keseimbanganku mulai pudar.Untungnya, tubuh ini jatuh tepat di depan rumah Pak Gatot, salah seorang tetanggaku yang bekerja sebagai Dokter. “Nak, Jon !!!, kamu tidak apa-apa ?”ucap Pak Gatot menyadarkanku. Pak Gatot yang merasa khawatir dengan keadaanku, segera membawaku ketempat kerjanya di rumah sakit daerah. Aku menjalani pemeriksaan, dan kenyataan buruk mulai terasa jelas “Nak Jon, sepertinya luka di bagian belakang kepalamu cukup dalam. Dan luka itu mengganggu konsentrasi dan keseimbangan tubuhmu. “ ungkap Pak Gatot. “apa bisa sembuh ?”tanyaku. “Bapak rasa kecil kemungkinan untuk sembuh. Karena luka dikepala Nak Jon itu permanen dan jika dilakukan operasi mungkin keberhasilannya hanya 1 berbanding 8. “ucap Pak Gatot sambil memperlihatkan hasil ronsen pada kepalaku. “Sebaiknya  Nak Jon jangan memaksakan untuk melakukan sesuatu yang memeruhkan konsentrasi yang tinggi dan bapak harapkan Nak Jon jangan terlalu banyak memikirkan masalah. “ucap Pak Gatot lagi. Aku hanya menundukkan kepalaku, “kenapa ? kenapa harus aku ?”. “oh iya, tolong jauhi keramaian dan music untuk beberapa saat ini, Bapak khawatir jika hal itu dapat memperbesar kerusakan otak Nak Jon, Keramaian dan music memeruhkan konsentrasi. Jika terus dilakukan mungkin akan keluar darah lagi dari hidung atau mungkin pendengaran Nak Jon akan kacau” tegas Pak Gatot.
                Sejak saat itu, malam yang dihiasi bintang tak dapat lagi aku harapkan. Kurasa semua harap tentang senyum yang ingin aku lihat semakin memudar tertutup kabut. Mimpi terbesarku kini hanya lah angan ku saja, “aku ingin melihat dia tersenyum bahagia. Aku ingin semua orang bangga dengan apa yang dia lakukan. Dan aku ingin selalu menjadi orang pertama yang dia ingat, yang dia rindukan” jujurku dalam hati. Hanya itu yang kini ingin aku lakukan. “Hai bodoh !!, kenapa kau melihatku seperti itu ?”ucap Peter. Aku berjalan mendekatinya, tanganku menggenggam kuat kera bajunya “berhenti mengganggu Aulia !!!, dia hanya ingin berteman. “teriaku. “apa maksumu ?, cepat lepaskan “. Aku melepaskan genggaman tanganku, aku bersujud kepada Peter dan teman-teman kelasku yang ada pagi itu “aku mohon maafkan dia. Aulia memang wanita yang menjengkelkan tetapi itu caranya untuk mencari teman. Dia,,, dia tidak pernah mempunyai teman sebelumnya…..dia hanya sendirian, dia tidak memiliki orang yang berarti seperti kita. Ibu, Ayah maupun teman dia tidak memilikinya “ teriakku. Saat itu air mataku tak dapat ku bending. “kalian boleh memukulku. Tapi aku mohon maafkan dia. Dan aku mohon kalian mau menjadi temannya “ pintaku. “Kau !!!, apa yang kau lakukan ?”teriak Aulia sambil menarik paksa ku. “lepaskan !!!,” aku melepas paksa genggamannya. “Aku mohon”pintaku lagi. “ayo pergi !!”teriak Aulia lagi sambal menggenggam tanganku. Aku melepaskan kembali genggaman tangan Aulia. “apa yang kau lakukan ?”tanya Aulia. Di…dia menangis “Bodoh !!! Jono Martinus kau memang bodoh, aku membencimu”teriak Aulia meninggalkan ku. Aku tidak memperdulikannya “aku mohon pertimbangkan permintaanku itu” ucapku. Semua siswa kelas hanya terdiam saat aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Beberapa hari setelah itu, aku selalu membolos. Orang tua ku tidak mengetahui apa pun termasuk tentang penyakitku. “Jon, kenapa kamu tidak sekolah ?”tanya Aulia kepada ku. “dari mana kamu tahu aku disini ?, dari Roni ?”tanyaku. “itu tidak penting. Aku sudah tahu keadaan mu saat ini, itu salahku kan ?. seharusnya aku tidak mendekatimu”ucap Aulia. “tidak ada hubungannya denganmu. Lebih baik kau pergi”ungkapku. “ini cacatan fisika minggu kemarin. Besok kita akan ulangan, aku harap kamu datang” ucap Aulia lagi. Dia memberikanku sebuah buku tulis, tetapi aku hanya diam. “ini Jon”ucapnya sambil meletakkan buku itu ditanganku. Aku menerima buku catatan itu, lalu membuang buku itu tepat didalam tempat sampah. “Jon” teriak Aulia sambil mengambil buku cacatan yang aku buang. Aku tidak memperdulikanya, langkahku berjalan tegar meninggalkan Aulia. “keras kepala“gumamku . Dia selalu bersih keras agar aku kembali kesekolah. Sampai suatu saat “Berhenti menggangguku !!!, kau punya kehidupan sendiri jangan ganggu aku” teriakku. Dia menangis lagi dihadapanku “memuakkan”gumamku jelas. Kali ini sepertinya dia menyerah. “Dream High…” hanphone tiba-tiba saja berbunyi. “halo…ini siapa ?”tanyaku. “cepat temui aku dibelakang SMA. Cepat !!!” teriak orang yang meneleponku. Aku merasa penasaran dengan orang yang meneleponku, langkah kaki ku kuarahkan tepat kearah lapangan yang ada dibelakang sekolah. “Apa yang kau lakukan sampai membuat Aulia menangis ?” teriak Roni sambil mengarahkan tinjunya tepat kearah perutku. Aku hanya diam, “aku memang pantas untuk dipukul “. “Kau juga menyukai Aulia kan ? “tanya Roni. “jika kau menyukainya, seharusnya kau tidak membuatnya menangis”ucap Roni sambil menarik rambutku dan menatapku. Dia hanya mengatakan itu, Roni pergi setelah memberikan selembar kertas kepadaku. “Jon aku menunggumu besok ditempat pertama kali aku menangis dihadapanmu. Tolong datang, “ Cuma itu yang tertulis dikertas itu. Hatiku terasa seperti telah menjadi batu, senyum yang tampak diwajahku hanya topeng dari kesedihanku. “Kurasa sifat wanita itu kini menjadi sifatku”ucapku.
                “Hujan ….hahaha” aku tertawa meski hati terasa perih. Hari ini memang hari yang berat bagiku, kedua orang tua ku telah mengetahui tentang penyakitku. Sebelum pajar datang Pak Gatot datang dan menceritakan semuanya kepada ayah dan ibu ku. Aku tidak bisa mencegah orang tua itu, padahal Pak Gatot sudah berjanji tidak akan menceritakan semua ini kapada kedua orang tuaku. “tapi kenapa ?”. “Jono !!!”teriak seseorang dari arah hujan yang turun dengan derasnya. “Jon, tolong jangan kecewakan dia !!!” teriak nya lagi. Terdengar suara motor yang pergi melaju semakin jauh, “siapa orang aneh itu ?”. Jam dinding telah menunjukkan pukul 12 siang. Tetapi tiada tampak sinar matahari di langit yang ada hanya deru hujan yang terus menetes. “ah, kepalaku lagi-lagi sakit”, nafasku kembali tidak teratur dan ….darah kembali menetes keluar dari hidungku. Aku bergegas kekamar mandi, “jangan sampai orang tua ku tahu, meraka pasti jadi tambah khawatir”pikirku. Aku melihat diriku dicermin, begitu rapuh, begitu bodoh dan begitu payah. Aku mencoba tersenyum seolah menyapa bayanganku yang ada dicermin. “Aulia !!!”teringatku. “Astafirrullah, kenapa selalu wanita itu yang aku ingat”, darah keluar kembali dari hidungku. “aku harus menemuinya “pikirku. Aku keluar secara diam-diam, hujan masih menetes dengan derasnya “dingin”. AULIA !!!, itu yang ada dibenakku. Aku berlari menghantam deru hujan yang menghadang. Berat rasanya, perih dan menyakitkan. Kepalaku semakin terasa menyakitkan, darah kembali keluar dari hidungku, dan pendengaranku pun semakin tidak jelas. Langkah kakiku semakin rapuh, “alhamdullilah, aku sampai” dia masih menungguku. “Bodoh, kenapa kau masih disini ?”teriakku kepada Aulia yang duduk menungguku. “Kau yang Bodoh, kenapa kau kesini ?”Aulia membalas teriakkanku. Dia tersenyum , “tolong jangan lepas pelukanmu” pintaku sambil memeluknya. Setelah itu entah apa yang terjadi. Mataku terasa berat untuk dibuku, yang aku dengar hanya teriakkan seseorang yang aku suka “Aulia”, dia terus memanggilku.
                “Kenapa kau tidur disini lagi ?” tanyaku pada Aulia yang menjagaku semalaman. “Eh, kau sudah sadar . kau tidak apa-apakan?” tanya Aulia cemas. “tentu saja tidak”ucapku. “hai Jon, kau sudah sadar?”ucap Peter yang tiba-tiba masuk. “sepertinya sudah sehat “ucap Nanda, “Jon kami minta maaf ya. Kami rasa itu memang salah kami. Aulia kau mau kan menerima kami semua menjadi temanmu”ungkap Peter, Nanda dan teman-teman sekelas yang menjengukku. “tentu”hanya itu yang Aulia katakan. dia tersenyum kearahku “kenapa kau senyum-senyum ?, lagi sakit gigi ya “ucapku sambil tertawa. Semua orang yang ada disana terlihat begitu akrab,aku sangat puas bisa melihat semua temanku termasuk Aulia bahagia. Aulia kini tinggal bersamaku, kurasa hidupku kembali berwarna. Penyakit ini terasa sudah biasa bagiku, asalkan aku punya mereka semua yang menyayangiku kurasa itu adalah obat yang ampuh untuk menghancurkan penyakit ini. “Aulia !!, Jon mana Aulia ?”tanya Roni kepadaku. “ada apa kau kesini?” ucapku. “Bukan urusanmu “ucap Roni sambil mengetuk pintu kamar Aulia, dia seolah tidak menghiraukan keberadaanku. “Maksudmu apa ?, cepat jawab ada perluh apa kau dengan Aulia ?”teriakku. dia masih tidak menghiraukanku. “Hentikan Jon !!!”teriak Aulia. “aku hanya minta temani Roni ketoko buku kok, jangan cemburu ”ungkap Aulia. “aku cemburu “gumamku dalam hati. Aulia menarik dan menggenggam tangan Roni, “A w w”ucapku pelan. Saat mereka melangkah keluar, aku melihat dompet Aulia terjatuh tidak sengaja terjatuh. “Eh, ini potoku kan ? kenapa dia menyimpan potoku ?”ucapku dalam hati ketika membuka dompet milik Aulia. “Eh, Jon itu dompetku”ungkap Aulia yang kembali masuk kedalam rumah. “kau tidak membuka dompetku kan “ ucap Aulia dengan mata agak dipicingkan. “tidak”, “baguslah kalo begitu, aku pergi dulu ya. “ucap Aulia lagi sambil tersenyum. Aku berharap apa yang aku sangka benar adanya, “dia juga menyukaiku”

Part 1 DREAM HIGH (Love story “Paint My LIFE”)

       "From my youngest years, till this moment here, I’ve never seen such a lovely queen,,,, From the skies above to the deepest love, I’ve never felt crazy like this before” lagu itu memang memiliki makna yang luar biasa, untuk hidupku atau pun untuk setiap orang yang merasakan perasaan orang yang menyanyikannya. Sebelumnya aku tidak memahami artinya, namun disetiap lirik dan nada yang terdengar aku yakin perasaanan orang yang menulisnya begitu dalam, begitu indah hingga aku merasakan apa yang dia rasakan. Cinta memang luar biasa, dunia ada karena cinta, aku ada karena cinta, dan semua yang ada dihamparan dunia ini pun juga tercipta karena cinta. “Luar biasa, Subhanallah !!!”. “Jono !!!, tunggu Jon, kamu tahu tidak “ ucap Peter sambil berlari mengejarku. “Tahu apa ?” tanyaku. “Jon…..katanya ..akan ada anak baru “ ujar Peter. “Oh, gitu. “balasku dengan singkat. “hai Jon, mau kemana ? aku kan belum selesai bicara”teriak Peter. Aku langsung meninggalkan Peter yang belum selesai menyelesaikan pidato nya, hehehe. Setiap kali selalu saja begini, selalu saja ada yang mencari masalah “Hai kamu siapa ?, itu tempat duduk ku jangan seenaknya saja “ucapku sambil mendekati lelaki yang duduk di tempat duduk ku sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja. “Maaf”balas lelaki itu sambil meninggalkanku. “Lelaki aneh”gumamku pelan.
                “Apa ????!!?” Lelaki menyebalkan itu masuk kelas ini, sial.”Jon, itu dia anak baru yang aku maksud”ujar Peter. “Diam aku sudah tahu” ucapku. “Nama ku Roni Andreas Putra, aku pindahan dari SMA N 2 Jakarta Utara. Oh iya kalian bisa panggil aku Roni”ucap lelaki aneh itu memperkenalkan diri. “Hai, namaku Jono salam kenal ya “ ucapku kepada lelaki itu. Dia hanya diam, “sombongnya”gumamku dalam hati. Saat istirahat sekolah, aku melihat Roni duduk sendirian “Hai, Kau !?!!” panggilku. “ada apa?” tanyanya sambil menutup buku dan melihat kearahku. “Kau bisa main badminton kan ???, bagaimana kalo kita main  ?” ajakku. “Baiklah”ucapnya.”benarkah ??, maksudku baiklah nanti aku jemput “ungkapku sambil meninggalkan Roni. Sepulang sekolah aku langsung menunggu Roni didepan rumahnya. “Dream high……”hanphone ku berdering. “Halo ini siapa ?”tanyaku. “Jon aku sudah ada di GOR (Gedung OlahRaga), ini aku Roni”….., Eh, kenapa langsung dimatikan ?. aku bergegas melajukan motorku kearah GOR. “Cepat Jon !!”ucap Roni yang menunggu ku. “OKE !!, kamu pasti kalah Ron”balasku dengan penuh semangat. Aku memulai pertandingan dengan kemenangan, tetapi setelah lima menit. “Ron, hentikan !!!, damai-damai , jangan main cemes lagi”teriak ku. “payah !!”ucap Roni. “Siapa yang payah ?, aku cuma kurang pemanasan saja”ungkapku.
                Setelah satu minggu, tersebar gosip baru bahwa ada siswa baru lagi, dan katanya siswa baru itu sangat cantik. “Jon, anak barunya cewek atau cowok ya ?”tanya Nanda, teman sekelasku. “Kau ini, sudah tahu siswa baru itu cantik. Jelaskan kalo dia perempuan”ucapku. “hai Jon mau kemana ?”tanya Nanda kepadaku.”aku mau photo copy buku kimia dulu” ungkapku sambil meninggalkan Nanda. Siang yang terasa hampa, itu yang aku rasakan. “sial, kenapa ramai sekali”gumamku dalam hati. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian, terkadang kepalaku tiba-tiba saja sakit. “terima kasih Kak “ucapku sambil menerima hasil photo copy dan memberikan uang pembayaran photo copy. Kepalaku tiba-tiba saja terasa sakit….Tiba-tiba seorang wanita menabrakku ”Eh, maaf “ucapku. “kalo jalan lihat-lihat donk “balas wanita itu. “Eh, kamu yang nabrak. Bukan aku dasar wanita”ucapku dalam hati sambil berusaha tersenyum. “maaf “ucap ku lagi. Dia hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Cantik sih cantik, tetapi sikapnya cuek banget. Yang salah siapa ?...
                Selang sehari setelah kejadian itu, Seorang wanita yang tidak asing bagiku muncul pada saat pelajaran Bahasa Indonesia. “anak-anak Kita kedatangan siswa baru, silakan perkenalkan diri” ucap Ibu Novia. “Nama Saya Aulia Septriasari, salam kenal” ucapnya dengan singkat sambil menahan senyum yang aku rasa tidak iklhas. “Silakan duduk disamping Jono “ujar Ibu Novia. Aku hanya tersenyum saat dia duduk disampingku, tetapi dia “Ada apa senyum-senyum, lagi sakit gigi ya ?”ungkap wanita itu. “tidak” ungkapku sambil membuang muka. Dia memang wanita yang menyebalkan, bahkan semua orang di SMA membenci wanita itu. Bukan hanya karena sifat cueknya, dia juga sangat pelit. Tetapi entah apa yang membuatku selalu penasaran dengan wanita itu. “Eh, siapa yang bernyanyi itu. Suaranya merdu juga”ucapku saat mendengar seorang wanita yang sedang bernyanyi, “sangat merdu”. Aku yang penasaran melangkahkan kakiku kearah suara itu. “Ruang Kelasku ?, siapa yang lagi bernyanyi itu ?.Eh, Aulia” ucapku pelan. “Siapa itu ?”tanya Aulia. “Ak……aku Jono”ungkapku. “kanapa masih disini ?, kenapa belum pulang ?” tanyanya. Aku melangkah masuk kedalam kelas“Aku…..”. “jangan masuk aku mau ganti baju!!” teriak Aulia. “Eh, maaf. “ungkapku sambil menutup mata.”cepat berbalik kearah dinding”teriak Aulia lagi. “Eh, kenapa kau ganti baju disini ??dirumah kan bisa”ungkapku lagi.”aku tidak sempat lagi, lebih baik kau diam. Cerewet “ujar Aulia sambil menatapku tepat didekat wajahku. “Kenapa melihatku seperti itu ?”ujarku saat membuka perlahan kedua mataku. “kau tidak melihat nya kan ?”tanyanya dengan mata agak dipicingkan. “tentu saja,,,,,Tidak. Maksudku tentu saja aku tidak melihatmu saat ganti baju”jujurku. “baguslah”ucap Aulia sambil meninggalkanku.
                Malam terdengar menangis, sisa tetes gerimis terasa jelas. Angin yang dingin seakan membuat hewan malam merasa senang. Aku berniat pergi ke supermarket yang ada didepan SMA, langkahku terasa was-was “dinginnya”. Aku semakin erat memegang jaket yang aku pakai “Aulia !!!”, “kenapa wanita itu duduk sendirian ditaman ?. Mana malam sudah larut         “ucapku dalam hati. “Dia menangis ?, kenapa ?.Roni !!, kenapa Roni juga ada disini ?”tanyaku dalam hati. Aku merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi, Roni semakin mendekati Aulia. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Tiba-tiba Roni memeluk Aulia. “Astafirullah” aku langsung berlari dan memisahkan mereka. “hai apa yang kalian lakukan?”tanyaku kepada Roni. Roni hanya diam, dia pergi begitu saja tanpa satu katapun. Aulia kembali meneteskan air mata, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aulia, dia memelukku. “ada apa denganmu ?”tanyaku.”jangan lepaskan pelukanmu”pintanya. Setelah Aulia berhenti menangis, aku berusaha melepas pelukannya. “Aneh, dia malah tertidur”ungkapku sambil menghapus air mata yang ada dipipinya. Aku menggendongnya, rencananya dia akan aku antar pulang, tetapi “dimana rumahnya ya”tanyaku dalam hati.
                “Kau sudah bangun ??”tanyaku kepada Aulia yang baru membuka kedua matanya. “matamu nampaknya kelihatan bengkak ya ?, makanya jangan suka nangis” ledekku. “Aku dimana ?”tanya Aulia.dia bangun dan menarik kembali selimbut dengan erat.”Kau dirumahku, tadi malam kau ketiduran”jelasku. Belum sempat aku menyuruhnya makan, dia sudah ada dimeja makan sambil membawa selimbut. “Hai, kau ini aneh sekali. Apa kau tidak punya sopan santun”ungkapku. “Ibumu dan ayahmu kemana ?”ucap Aulia dengan mulut penuh makanan. “mereka lagi kepasar, cepat selesaikan makanmu. Bisa bahaya kalo orangku tahu ada wanita dikamarku” ungkapku. “iya, ya. Santai saja “ucap Aulia. “ayo cepat pergi, aku akan mengantarmu pulang”ucapku. Aku langsung menarik tangan Aulia.”hai, tinggalkan saja selimbut ini. Aduh …..pake jaketku ini, cepat “suruhku kepada Aulia. “ayo naik !!”ucapku lagi. “Iya cerewet !!”teriak Aulia sambil mengejekku. Dia memakai jaketku dan langsung naik ke atas motor. “tolong jangan dilepas”pinta Aulia dengan nada suara yang berbeda.” Kenapa jadi lembut ?”. aku mengantarnya pulang, tetapi rumahnya kelihatan sepi tidak ada seorang pun yang tampak. “cepat pulang sana !!!”teriak Aulia. Dia berlari dan mengunci  pintu pagar rumahnya.”dasar tidak tahu terima kasih”gumamku pelan. “Hai, PAYAH. Kenapa kau ada disini ?”tanya Roni yang tiba-tiba muncul.”Tidak, eh kau sendiri kenapa disini ?” balasku. “Aku ?, aku mau ketemu Aulia”ucap Roni sambil tersenyum. “memang ada apa kau dengan Aulia ?”tanyaku lagi. “Oh dia pacarku “ucapnya. Roni langsung pergi kearah rumah Aulia, “kapan jadiannya ?”gumamku lagi. Aku langsung menghidupkan motorku dan melaju pergi, aku bergegas untuk pulang “aku kan belum mandi ?”.tiba-tiba aku teringat sesuatu ”Eh, jaketku”, aku langsung memutar haluan kembali kearah rumah Aulia. Pintu pagarnya telah terbuka begitu pula dengan pintu rumahnya, “Assalamu’alaikum, Aulia !!”teriakku.  tidak ada balasan, yang ada hanya bayangan jelek yang tampak dikaca”itu kan aku ”. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari arah pintu samping, “Roni  !!“ucapku. “Jono. tebakkanku tepat, kau pasti kesini “ ucap Roni. “maksudmu ? aku hanya ingin mengambil jaket ku saja”ungkapku. “Oh begitu, aku pulang dulu ya Aulia “ucap Roni pergi meninggalkan aku dan Aulia. “ini jaketmu” Aulia melemparkan jaketku. “hahaha, Aulia masih ada nasi dibibirmu “ungkapku sambil membersihkan nasi yang ada dibibir Aulia. Dia tersenyum “jangan sok baik ya”. Ah lagi-lagi kata-kata kasarnya keluar kembali. “terserah. Oh iya Roni kesini ada perluh apa ?” tanyaku. Aku meminum segelas teh yang ada diatas meja.”dia cuma mengembalikan buku ku saja. Eh kenapa kau minum minumanku?”ucap Aulia. “Aku haus, apa cuma itu ?..... m m m kau pacaran dengan dia ya ?”tanyaku lagi. “Dengan Roni ?. enak saja jangan asal bicara” ucapnya. “temani aku ke toko sebentar ya”pinta Aulia. Dia menarik tanganku dan memakaikan jaketku.  Aku hanya tersenyum dan mengikuti permintaannya. Hari itu aku melihat Aulia yang berbeda, senyumnya manis sekali. Hehehe. Saat aku mengantarkanya pulang “Aulia, sebenarnya kau sudah mandi belum ?” tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. “hahahaha” aku tersenyum dan langsung pamit pulang.
                Telah terjadi hal besar disekolah pagi itu. Aulia membuat teman-teman sekelas menjadi murka, sepulang sekolah tepatnya diparkiran motor yang sepi siswa kelasku semua melempari Aulia dengan telur. Aku yang melihat itu langsung melindungi Aulia dengan badanku. “AW……sakit”gumamku dalam hati. “Kenapa kau melindungi cewek aneh ini Jon !!”teriak Peter. Aku hanya diam tanpa sekata pun, “aku tidak bisa terus begini”pikirku. Aku menarik paksa Aulia menjauhi mereka yang masih melempari telur kearah Aulia. “SIAL !!, apa yang kau lakukan !!”teriakku pada Aulia. “Bodoh !!!, kau memang bodoh!!! jangan jadi sok jadi pahlawan”ucap Aulia. “bisakah……bisakah kau mengubah sifatmu yang menjengkelkan itu ?”teriaku. Aulia hanya diam. “Aku menyukaimu”ungkapku sambil meninggalkan Aulia.
                Setelah kejadian itu, aku selalu dijauhi, dihindari dan tidak satu pun mau mendekatiku. “Apa kau lihat Aulia ?”tanya Roni kepadaku. Aku hanya diam dan menggelengkan kepala. “ada apa dengan mu ?, Aneh sekali”ucap Roni meninggalkanku. SMA ku hari ini melaksanakan study tour ke Jogja, semua siswa kelas XI ikut dalam perjalanan itu. “Hai, kau !! bisa geser “ucap Aulia yang tiba-tiba datang. “Apa?” tanyaku sambil melepas headset, saat itu aku sedang mendengarkan lagu. “Tidak masalah kan aku duduk disini ?”tanyanya kepadaku dengan wajah yang memuakkan, tetapi tetap manis. “boleh, apa kau mau didekat jendela ?”tanyaku, dia hanya mengangguk. “Anak-anak cepat duduk, mobil akan segera berangkat. “teriak Ibu Novia. “Hai, coba lihat. 2 orang yang aneh duduk bersama !!”teriak Peter  dengan tunjuk yang mengarah tepat kearah ku dan Aulia. Semua siswa tertawa dan terus meledek kami. “Ini, cepat pakai”ungkapku sambil menyerahkan sebelah headset ku kepada Aulia. “maksudmu ?”tanyanya. “pakai saja”ucapku lagi. Dia memakai headset “Eh, maksudmu apa ? “ tanyanya lagi.”maaf hanphone ku habis baterai, ini lebih baikkan ?”ungkapku. aku menoleh kearah Peter dan yang lainya, mereka tampak masih meledek kami. “pejamkan saja matamu, nanti aku bangunkan kalo sudah sampai”ungkapku lagi.”jangan macam-macam ?!!”ucap Aulia. Dia memalingkan wajahnya, aku hanya tersenyum. Waktu berlalu begitu cepat “Alhamdullilah mereka sudah berhenti “. “Eh” Aulia tertidur, tetapi kenapa kearahku. Aku mengambil selimbut yang ada dikantong mobil, dan memakaikannya kepada Aulia. Dia tertidur di pundakku, nampaknya dia sangat kelelahan. “Kita sudah sampai anak-anak, ini adalah candi Borobudur” teriak Ibu Novia. “Eh, apa yang kau lakukan ?” tanya Aulia yang baru terbangun. “ada apa ?, kau yang tidur dipundakku“gumamku. Aku bergegas mengambil tas ku dan berjalan keluar mobil.” Hai, cepat sedikit !!, yang lain sudah keluar”teriakku. “pergi saja sendiri, jangan sok perhatian “teriak Aulia dengan wajah cemberut. Aku meninggalkan Aulia yang sangat lambat. “mana Aulia ?”tanya Roni yang tiba-tiba saja muncul. “ada urusan apa ?, kau kan bukan siapa-siapa Aulia. Pacar saja bukan “ucapku. Dia malah tersenyum “Tidak apa-apa kan ?, aku menyukainya”ungkap Roni, dia berusaha masuk tetapi aku tetap menghadangnya. “Hai, apa yang kalian berdua lakukan ?, Bodoh !!!”teriak Aulia. Aulia berjalan keluar dari mobil tanpa mempedulikan aku dan Roni. Aku bergegas berlari menyusul Aulia,”Kenapa kau juga ikut ?” tanyaku pada Roni yang juga ikut berlari. Dia hanya diam, sial !! dia tersenyum seolah menantangku.
                “Tinggi sekali !!”ucap Aulia. Semua siswa yang ada didekat Aulia langsung pergi menjauhinya. “ayo “ ucap ku, aku menyodorkan tangan ku kearah Aulia. Dia melihatku dengan tatapan yang memuakkan lagi “jangan sok perhatian” ucapnya sambil meniggalkanku,” Selalu saja begitu” gumamku pelan. “Ah, lelah sekali “ucap Aulia. “Ini, minumlah “ungkap Roni yang datang sambil membawa sebotol aqua. Aku yang melihat itu, langsung menghampiri mereka “Minum ini saja, ini lebih sehat “ucapku sambil mengambil botol aqua yang ada di tangan Aulia. “Hai !!!, kalian berdua ini memang menyebalkan “teriak Aulia meninggalkan aku dan Roni. “Kau !!!”ucapku pada Roni. Terik sang matahari tidak menghilangkan semangat ku untuk mendekati Aulia. Namun semangatku mulai memudar saat aku melihat Roni dan Aulia duduk berdua, mereka kelihatan sangat dekat. Aku menundukkan mukaku “selalu saja begini, aku hanya bisa berharap” gumamku pelan. Siang itu tanpa kusadari anak-anak kelas telah menyusun rencana untuk mengerjai Aulia, Aku yang mengetahui itu bergegas mencarinya. “Ron kamu lihat Aulia ?”tanyaku pada Roni yang sedang istirahat. “Tidak, memangnya ada apa ?”tanya Roni. “bukankah dia tadi bersamamu, sial. “ungkapku dengan nada khawatir sambil berlari kembali untuk mencari Aulia. “Hai tunggu, “ucap Roni yang ikut mencari. “dimana dia ??, ayolah kemana ?” cemasku. “Ahhhh !!” teriak seorang wanita. “Aulia” ungkapku cemas, aku langsung berlari kearah suara itu. Tetapi, yang aku lihat cuma terpeleset saja”ayo berdiri”, aku menarik tangan Aulia secara paksa. “terimakasih” ucapnya singkat. Tiba-tiba sebuah batu besar terjatuh dari salah satu candi yang ada disana, aku yang melihat itu bergegas mendorong Aulia. “Kau tidak apa-apa kan ?”. “tidak, aku tidak apa-apa kok”ungkap Aulia. Entah kenapa mataku terasa berat, aku memegang bagian belakang kepalaku.“darah “gumamku dalam hati.

My name is Joni Martinus

By. John

                Ketika sang bulan menghentak dan pergi selintas tampak jelas keindahan suasana malam yang terkadang tak dapat dirasakan disetiap waktu, “ indah juga”. Suara hewan malam menjadi sahabat yang tepat untuk menghilangkan semua rasa lelah, “kenapa aku selalu melakukan semua hal ini, andai saja ada waktu dimana aku bisa bebas melakukan apapun tanpa harus pergi kesekolah”. Harus selalu mencoba tersenyum dan ikut tertawa meski hal yang ditertawakan tidak pernah lucu, malah terbilang menyakitkan. “Kakak !!!” teriak Ani
                “Ada apa sih ? pake acara teriak-teriak”
                “Kok belum pergi ?. ayo kak. nanti pengajiannya keburu mulai “
                “Oh iya.. duluan saja dek, kakak mau mandi dulu”
                “iih… jorok, udah malam kak. Memangnya dari tadi apa kerjanya sih”
                “Cerewet. Rumit juga punya adek kayak kamu ini. Duluan saja sana”
                “iya-iya kakak jorok” ucap Ani bergegas pergi kerumah Pak Haji Ahmad.
               
                Jam dinding sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit. “Brrrrr !!” suasana terang bulan diiringi lanturan suara hewan malam membuat tubuh menggigil. “anginnya terasa menusuk” gumam Joni pelan sambil memakai pakaian. “Ibu aku pergi dulu. Assalamualaikum “.

Malam yang dingin itu membuat suasana yang hening menjadi semakin mencekam, sarung yang dipakai Joni terlihat semakin lama semakin ditarik kuat hingga betis yang tak berbulu halus tampak menyilaukan, untungnya lampu jalan yang biasanya bersinar cerah akhir-akhir ini sudah tidak ada. “ ada juga ya yang mau maling lampu jalan ?”. Angin malam yang menyait kulit dan suara binatang malam yang berpesta riah ditambah bulan yang bersinar terang tanpa bintang membuat langkah Joni semakin was-was “Ya Allah lindungilah hamba-Mu yang manis ini, aku kan Cuma mau pergi ngaji enggak macam-macam”. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat dan sebuah sentuhan muncul tanpa diduga dari arah belakang Joni. “Se…se…setan ya ?, tapi kok tangannya hangat” ucap Joni pelan
“Hai Jon”terdengar suara lembut dari pemilik tangan yang menyentuh Joni.
Joni yang masih diselimbuti rasa takut memaksakan leher nya untuk menoleh kearah belakang “Andri !!??”teriak Joni lega.”Alhamdullilah bukan setan, untuk Cuma cucunya”. Suasana yang mencekam tlah berubah sedikit demi sedikit.
“Enak saja, kamu yang cucunya setan”
“tangkis, sekarep mu saja. Jelek-jelek begini aku bukan setan” Joni membanding-bandingkan”kalo mirip sih, dikit”
“hahaha, bagus jujur lebih baik”. Joni menatap tajam kearah Andri yang tertawa lepas “Kamu mau kemana ? jangan-jangan kamu ngikutin saya ya ?”
Andri yang tadinya tertawa lepas langsung diam seolah membalas tatapan Joni”Aku mau kerumah Pak Haji Ahmad, mau belajar ngaji. Kamu mau kemana?”
“aku juga mau kesana. Kamu anak baru ya ?”tanya Joni sambil berjalan santai, sesekali dia tertawa kecil sambil melihat kearah Andri
“Iya, boleh kenalan ?”tanya Andri iseng
“Boleh, nama gue John Anderson, kalo nama Lho siapa  ?” balas Joni
“Gue ?. lho tanya gue. Kenalin Gue Jastin” balas Andri tak kalah gilanya.
“Kalian aneh, habis kesurupan ya ?”ujar Ani yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. “Aku duluan Kak”
Joni dan Andri hanya terdiam malu. “Eh, Kok baru pergi ?”tanya Joni kepada adek nya
“Aku tadi kerumah Ibu aminah dulu. Ngambil uang kue yang kemarin”
“Oh gitu”
“duluan ya Kak, aku gak mau barengan dengan kakak nanti kesurupan juga” ucap Ani sambil tertawa
“Cerewet”

Langkah Joni dan Andri terhenti tepat didepan pintu rumah Pak Haji Ahmad hadin, malam itu suasana rumah berbeda dari malam-malam sebelumnya, sepi dan agak gelap, nampaknya lampu jalan Pak Haji juga dimaling. Tiba-tiba terdengar suara seorang cewek membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Suaranya sungguh merdu, lantunan ayat suci yang dibacakannya membuat suasana yang hening dan sepi berubah menjadi lebih indah, Subhanallah.
 “Assalamualaikum”ucap Joni dan Andri kompak. Suara yang menyentuh hati yang terdengar tiba-tiba hilang dan berganti dengan langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat “Waalaikumsalam”balas seorang cewek yang memakai jilbab pink.
“Jon, ada bidadari” bisik Andri
Joni menerawang dan melihat kearah wanita berjilbab yang ada didepannya “Fatimah ya ?”
“Iya Jon” balas wanita itu dengan lembut. Terjadi acara tatap menatap, Andri yang nampaknya terpanah dengan sosok Fatimah memandangnya dengan penuh kefockusan
“Ada apa?, ada yang salah ya sama pakaianku ?”tanya Fatimah kepada Andri. Andri masih terdiam, matanya tak berkedip. “Ngucap Dri” ucap Joni sambil memukul pundak Andri. 
“Nah, Kok Cuma diam di depan pintu. Cepat masuk, kita mulai saja pengajiannya”ucap Pak Haji  yang datang dari arah belakang Fatimah.
“Eh, Iya Pak” ucap Andri yang baru tersadar.


“Tok…tok…tok…” pintu kamar Joni diketok dari luar
                “aduh, siapa sih yang tidak tahu diri ? pagi-pagi buta begini ngetuk-ngetuk pintu kamar orang”pikir Joni sambil menutup mukanya dengan bantal.
                “Kak. Kakak, bangun dong !!!”
                “Berisik !!!!”
                “Kakak jorok, bangun !. udah jam 7 tuh”
                “Masa?” tanya Joni tak percaya
                “Aku duluan ya kak. Aku berangkat sama ayah saja”
                Setelah beberapa menit Joni baru tersadar “sudah jam 7”.  “Bu Ani sudah pergi ya ?”
                “Sudah dari tadi, sudah bangun ya ?. Ibu pikir sudah tidak mau bangun lagi” ucap Ibu Joni.
                Tak ada sahutan dari Joni, dia tampak kacau “Bu aku pergi. Assalamualaikum”. Motor Joni langsung melaju cepat menuju SMA N 1 Bakti tempat Joni bersekolah.
                “Jon, kamu tidak mandi ya ?” Tanya Ibunya

“Joni Martinus ???, Joni ?, Joni mana ?”tanya Pak Satrio mengecek daftar kehadiran sisiwa. “Belum datang Pak” jawab Putra, salah seorang sisiwa. Joni tiba-tiba muncul dengan bercucuran keringat. “maaf Pak, motor saya tadi mogok”. Deni berjalan masuk kekelas dengan langkah pelan, tangannya masih menggenggam kuat  tasnya yang hitam dan tampak kumuh. “Mau kemana ?. cepat keluar !, jangan masuk selama jam pelajaran Bapak mengerti !!”
                “tapi Pak …”terdengar nada lelah dan lemah “ cepat keluar !!!” teriak Pak Satrio untuk yang kedua kali. Buku daftar hadir yang ada ditangan Pak Satrio seakan siap mendarat ke tubuh Joni yang kurus dan hitam. Ini bukan yang pertama kalinya Joni terlambat datang pada pelajaran Pak Satrio, mungkin ini yang ketiga kalinya. “Baik Pak..” Joni berjalan pelan keluar kelas. “Baiklah kita lanjutkan …” langkah kaki Joni berbalik menuju Pak Satrio “Maaf Pak, maaf kalo aku buat Bapak marah. Tapi jika Bapak jadi aku Bapak juga akan merasa sedih. Aku berjuang untuk datang kesekolah ini, aku harus mendorong motorku yang mogok. Tapi setelah aku datang aku malah di usir keluar dari kelas. Aku yakin Bapak pernah merasakan hal yang aku rasakan. Berusaha datang kesekolah tapi setelah sampai malah seperti ini. Maaf ya Pak”.
                “Maksud nya ?”tanya Pak Satrio bingung. Semua siswa yang memperhatikan Joni hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkahnya. “bukan apa-apa Pak, aku hanya ingin mengatakan apa yang sedang aku rasakan. Aku keluar dulu ya Pak.”  Joni menghela nafas dan berjalan keluar. “Tunggu dulu, mau kemana ?. “ Joni berhenti berjalan. “Cepat duduk, pelajarannya sudah mau dimulai”
                “Iya Pak” Joni tersenyum dan bergegas menuju tempat duduknya,” jangan sampe Pak Satrio berubah pikiran”gumamnya pelan.  Joni  mengeluarkan buku pelajarannya, seperti biasanya mata Joni terlihat serius mendengarkan Pak Satrio menerangkan pelajaran. “ Kamu memang gila Jon, ada juga orang yang berani macam kamu.” Ucap Toni teman sebangku Joni. “Iya benar, sejarah kan selama ini tidak ada yang berani berbicara kayak gitu sama Pak Satrio”tambah Putra dari belakang. Joni hanya diam, pandangannya tidak tergoyangkan dari papan tulis. “Jon serius sekali, nampaknya kamu akan dapat nilai besar nih dari Pak Satrio ” ucap Putra yang salut sama Joni yang dari awal selalu memperhatikan pelajaran yang disampaikan. Padahal siswa satu sekolah pun tahu kalo pelajaran yang disampaikan Pak Satrio sangat membosankan, selalu teks book. Joni membuka buku catatannya sambil menulikan sesuatu, tangannya yang berkulit hitam bergerak seakan mengikuti permukaan kertas yang kasar. Joni memperhatikan Pak Satrio sambil tersenyum lalu menyerahkan buku catatannya kepada Putra.  Putra tampak heran dengan tulisan yang ada dicatatan Joni, setelah diteliti dengan seksama “Hehehe, sebenarnya aku tidak paham sama sekali, sebenarnya Pak Satrio sedang jelasin apa sih ? aku benar-benar tidak tahu” kata-kata itu jelas walau pun tampak samar-samar di buku catatan Joni yang dipenuhi tulisan aneh. Putra hanya nyengir sambil tertawa kecil. “ Nih bocah benar-benar gila”
                Saat jam Istirahat tampak Andri dan Joni sedang duduk santai didepan kelasnya, kelas X5 “Dre, kamu tahu tidak anak kelas X4 yang namanya Aulia ?” tanya Joni. “Tahu kok, yang ada lesung pipitnya itu ka ?”
                “Iya, ada nomor hp nya tidak”
                “M M M, kalo kamu mau no hp nya. Cariin aku nomor hp cewek yang tadi malam”
                “Maksudnya Ani ?”
                “Bukan Adek mu Jon. Yang dirumah Pak Haji”
                “Oh, Fatimah”
                “iya. Namanya Fatimah.”
                “Malas ah. Minta aja sendiri”   berdiri dan berjalan keluar. “Mau kemana Jon ?”
                “Ke kelas X4.”

                Aulia tampak sedang sibuk mengerjakan tugas. “Hai. “ ucap Joni sambil duduk disampingnya.
“Hai juga”balasnya dengan singkat. Aulia seakan tidak menghirau kan kehadiran Joni. “Boleh kenalan ?” tanya Joni. Aulia hanya diam.
                Joni mengambil pena dan buku yang ada ditangan Aulia. “ Boleh tidak ?”
                “Apa-apaan sih. Tidak  ada kerjaan “
                “boleh kenalan tidak”
                “tidak boleh. Sini kembalikan”
                “tidak mau”
                “dasar orang aneh. Kenapa belum masuk sih udah bel tau ?”
                “Malas. Ini bukunya, tapi penanya nanti aku kembalikan”
                Anak-anak kelas X4 berlarian masuk kekelas, suasana yang ribut seketika langsung menjadi sunyi. “Joni Martinus, kenapa belum masuk kekelasmu ?” tanya Pak Satrio yang masuk kekelas X4
                “Baru mau Pak.  Ini tadi cari pena dulu”
                “Kau. Penaku “ucap Aulia pelan
                “nanti aku kembalikan ya”

Hari itu memang benar-benar panas. Saat istirahat kedua, dikantin sudah tampak Radit, makluk penunggu setia kantin  “Bi satu mangkok lagi “. “Sudah berapa mangkok batagor nih ?” tanya Putra yang datang. “baru 3 mangkok”
                “Ngucap Dit, makan tadi baca doa tidak ?”tanya Joni sambil duduk disamping Radit. Sendok yang dipegang Radit berhenti bergerak, makanan yang ada dimulutnya pun berhenti dikunyah, dengan tangkas kedua tangannya di letak kan didepannya seperti sikap meminta. “Amin, sudah nih Jon”. “Aneh kau Dit” ujar Toni. Cuaca pagi memang lagi tidak bersahabat, Toni tampak sedang kekeringan karena suhu yang melewati 150 C, dua gelas teh manis habis dalam hitungan detik. “11  detik, hebat kamu Ton” ucap Putra yang memperhatikan Toni sambil sesekali melihat jam tangannya. Berbeda dengan Joni , dia lagi asik menyedot segelas teh manis sambil sesekali melihat kearah sekelompok cewek kelas X4 yang duduk manis di sebelah mejanya. “Jangan terus-terusan dilihat, tidak baik” Andri datang dengan gaya biasanya, dasi rapih, dan membawa sebuah buku. Joni melihat kearah Andri yang baru duduk didekat Toni. “Dri , bukumu kebalik”.
                “Eh, iya maaf lupa”
                “Lupa, atau lupa ?, kamu juga lagi lihat mereka kan ?. manis-manis ya anak kelas x4 ?”
                “iya sih manis-manis”tambah Toni. Putra dan Radit tampak lagi sibuk dengan taruhan mereka, kedua makluk itu lagi asik lomba secepatan makan soto ayam. Siapa yang kalah wajib membayar nya.
                Toni menggaruk-garuk kepalanya, tampak seperti mau bersiap-siap  mengerjakan setumpuk soal matematika. Toni berdiri, dia seperti baru mendapat kan ilham “Kita cari pacar yuk ?”
                “Malas “ ucap Andri dan Joni kompak.
                “dasar penakut, kenapa sih kalian takut dekatin wanita ?.”tanya Toni sambil duduk kembali, pandangannya  tampak kecewa.
                “Bukan mukrim, tidak baik “ balas Andri
                “Masa ?, kalo kamu Jon ?”
                “Malas saja. Gampang kalo mau cari pacar”
                “jangan Sok deh Jon.”
                “Kita taruhan saja, bagaimana ?”
                “Boleh, siapa yang punya pacar duluan dia yang menang”
                “Tidak menarik Ton. Begini saja, siapa yang bisa pacarin Aulia anak X4 dia yang menang ?”
                “Aulia yang duduk disanakan ?. yang cantik itu kan ?”
                “Iya. Kita taruhan keliling lapangan basket 10 keliling sambil pake bedak. Berani ?”
                “tentu saja “ ucap Toni denga tatapan tajam seolah-olah membalas tantangan Joni
                “aku tidak ikut-ikutan ya “ujar Andri yang duduk didekat Joni.

                Saat mengaji kerumah Pak Haji Ahmad, Andri tampak bersemangat. Sesekali dia melihat kearah Fatimah. “ngucap Dri, tidak baik melihat yang bukan mugrib lebih dari satu menit”
                “astafirullah. Eh, tumben perkataan mu benar Jon”
                “tentu saja, aku kan baru selesai ngaji”
Fatimah malam itu terlihat begitu berbeda, bukan hanya lantunan ayat-ayat Al-quran yang dibacakannya yang membuat Joni juga ikut-ikut tan selalu melihat kearah Fatimah. “Ngucap Jon, katanya tidak baik” tegur Andri. “Kalo tadi memang tidak baik, tapi sekarang tidak masalah. Kan sudah han ngajinya.”
Sebelum pulang Joni diminta tolong oleh Pak Haji untuk mengantarkan Fatimah pulang. Pengajiannya malam ini memang terlalu malam sebab pengajiannya dimulai sesudah isya. Andri yang mengharapkan kesempatan itu hanya bisa pasrah “terpaksa deh. Harus nemenin nenek lampir pulang” gumam Andri pelan. “Apa, nenek apa ?” tanya Ani . “bukan apa-apa”. Canda dan tawa menjadi kunci kedekatan Joni dan Fatimah. Entah angin apa yang membuat Fatimah malam itu terlihat begitu bahagia.” Malam yang indah” ungkap Joni. “Oh iya. Jon, besok boleh pergi kesekolah bareng. Kalo tidak keberatan”. Joni langsung menjawab “tentu saja boleh”

                “Prak…prukkk” terdengar suara aneh dari arah dapur. Ani yang terbangun bergegas memeriksa. “siapa itu ?”
                “Kucing “ terdengar suara membalas pertanyaan Ani
                “Oh Cuma kucing..” Ani berjalan kembali ketempat tidur. Badannya jatuh tepat diatas kasur. “Eh, kok kucing” Ani langsung berlari ke dapur. Sesosok bayangan hitam dibelakag pintu kamar mandi tampak samar-samar. Ani yang merasa takut, dengan cekatan mengambil sapu yang tepakir didekat gudang. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, dan bayangan hitam itu mulai tampak jelas “Kakak ?”
                “Eh, kenapa kau ada didepan pintu kamar mandi ?. jangan-jangan mau ngintip ya ?”
                “Najis. Enak saja”  Gumam Ani sambil mencipitkan matanya
                “ Ini baru jam 4, belum subuh. Lebih baik tidur lagi sana”
                “Iya-iya-iya. Tumben banget bangun pagi “
                “Cerewet. “

                Ada hal aneh yang membuat Joni mau bangun pagi-pagi. Melawan rasa dingin yang tampak dari tetesan air. “Ani, kau pergi dengan Ayah saja ya. Kakak pergi bareng Fatimah, dia mau nebeng”
                “Pantas saja”gumam Ani pelan

Di sekolah, Toni berusaha keras untuk mendapatka Aulia. Semua rencana telah dilakukan oleh Toni tapi semuanya usaha kerasnya terbuang sia-sia. “susah banget meruntuhkan hatinya”. 33 cara dan 22 jurus telah gagal. Toni yang terus-terusan gagal terlihat putus asa. “ Ton bukan kayak gitu, dekatin cewek “
                “sok tahu kau Jon”
                “memang tahu” ucap Joni sambil berjalan menuju Aulia.
                “Joni Martinus !!!” teriak Pak Satrio. “mau kemana lagi. Bel masuk sudah bunyi, Cepat masuk kekelas mu !!”
                “iiiiiiyaa Pak” Joni memutar haluan dan berjalan menuju kelasnya “kenapa sih Pak Satrio selalu memanggil namaku lengkap, Joni saja kan cukup”gumam Joni dalam hati.

                Memang susah jika mendekati wanita tanpa modal dan persiapan yang mateng, apalagi  setiap wanita memiliki sifat yang berbeda.  Beberapa minggu telah berlalu namun semua cara untuk mendekati Aulia semuanya benar-benar Failed, gagal total. Joni dan Toni sudah lelah mendekati Aulia yang susah untuk diajak berteman. “kita ganti taruhan. Jangan Aulia deh” keluh Toni. “iya-iya, siapa yang duluan punya pacar dia menang”ungkap Joni member ide.
                Di rumah Joni yang hening dan sepi. Joni tampak santai sambil menghirup segelas teh hangat. “Assalamualaikum” terdengar suara cewek dari luar rumah. “Eh, kok ada cewek yang datang kesini ?. oh mungkin tetangga”pikir Joni sambil berjalan pelan menuju  pintu rumah “waalaikum sa…….” Joni yang membuka pintu sambil menggenggam kuat sarung kainnya hanya terdiam melihat sesosok cewek manis yang ada dihadapannya. “Ada apa kak, kok melihatnya kayak gitu”
                “Wa…waalaikumsalam, Eh. Fatimah kan ?” tanya Joni tidak percaya
                “Iya Jon, m m m Ibumu ada tidak Jon ?”
                “Ibu ?. Maaf Ibu tadi lagi pergi kerumah orang nikah”
                “Oh begitu, lebih baik aku pulang ya Jon,” Fatimah berjalan pelan sambil melangkah kearah motornya yang terparkir di depan halaman rumah Joni. “tunggu dulu, mending kamu tunggu didalam, sebentar lagi pulang kok. Rumahmu kan jauh juga dari sini, lagian sudah mau hujan nih. “ ucap Joni perhatian.
                “maksih Jon, tapi sebaiknya aku pulang”. Joni membuka pintu rumahnya lebar-lebar “ lebih baik tunggu cuaca nya terang baru pulang”. Fatimah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “assalamualaikum. Aku pulang ya Jon” suara mesin nya menyala, perlahan motornya itu melaju pergi menjauh dari rumah Joni. “seandainya mesinnya tidak hidup” pikir Joni.
                Saat Joni menutup pintu rumahnya, tiba-tiba saja rintik hujan bertambah lebat. “Hujan deras nih”.  Sarung yang ada digenggamannya semakin kuat diangkat keatas sampai seluruh tubuhnya terbungkus rapi, angin yang dingin membuat langkah kakinya semakin layu. “Assalamualaimu, Maaf Jon” ucap seseorang yang muncul dari arah luar pintu. “waalaikumsalam,…. Fatimah ?” Joni hanya tertawa kecil melihat Fatimah kembali lagi. “Cepat masuk”
                “untung belum jauh. Bisa basah semua” ucap Fatimah
“Alhamdulilah ya..hehehe. Aku buatin teh hangat dulu ya.”
                “tidak usah repot-repot”
                “Tidak apa-apa kok”
                “Ini” Joni meletakkan teh hangat diatas meja “Diminum Mah”
                “iya. Makasih Jon”
“Mah, kamu kenal tidak sama Aulia, kelas x4 ?”
                “Aulia Nofitasari ?” Joni hanya mengangguk. “Kenal kok” jawab Fatimah
                “Dia itu gak suka cowok ya ?”. Fatimah yang mendengar pertanyaan aneh dari Joni langsung tertawa. “Jangan asal Jon, Aulia itu masih normal. Aneh kau Jon”
                “Lantas kenapa dia gak pernah kelihatan dekat sama cowok ?”
                “oh kalo itu sih,  sebenarnya dia mau focus ke pelajaran dulu. Aulia itu takut kalo dia nanti jatuh cinta”
                “apa iya Mah ?. m m m ngomong2 dia pernah pacaran belum sih ?”
                “kan sudah dibilang dia mau focus dulu ke pelajaran jadi yang jelasnya belum Jon, memangnya kenapa ?. Naksir ya ?”
                “tidak kok, cuma nanya. Tapi masa iya sih ?
                “Ya gitu Jon. Aulia memang kayak gitu. Oh iya dia pernah cerita lho kalo ada 2 orang cowok aneh yang selalu dekatin dia bahkan 2 cowok itu selalu kirim surat cinta. Aku penasaran siapa sih mereka berdua. “. Joni hanya tersenyum. Dia menghirup nafas dalam-dalam yang berusaha mengganti topic pembicaraan.
                “kalo Imah, kenapa gak pacaran ?”
                “aku tidak mau pacaran, Jon.”
“memangnya kenapa ?”
“lebih baik berteman saja Jon. Bagiku ikatan keluarga dan persahabatan lebih berarti dari pada ikatan pacar. Keluarga dan sahabat itu bisa selamanya, tapi kalo pacar aku rasa tidak. Nanti akhir-akhirnya akan sakit hati “.
                “Sok tahu kau, Mah”


                Beberapa hari ini Joni selalu datang lebih awal, jam setangah 7 dia selalu stand by didalam kelas. “Hai cewek aneh “ sapa Joni kepada Aulia yang duduk santai dikelasnya. “ada apa sih pagi-pagi sudah ganggu ?”. “Em, nah lupa. Mau apa ya “. “Joni Martinus !!” teriak seseorang dari arah belakang. “Aduh Pak Satrio. Ada apa sih ?, perasaan belum masuk” pikir Joni. “iya Pak, ada aaaapa Pak ? kan belum masuk”
                “memang belum”
                “Laluuuuu, aaaaaadaa aaaapa Pak ?”
                “Bapak mau mintak tolong. Tolong photocopy kan soal-soal ini di photocopy yan depan”. Joni menghela nafas “ Syukurlah”gumamnya pelan. Aulia yang melihat kejadian itu tersenyum sambil tertawa kecil, lesung pipitnya tampak menghiasi senyumnya itu. “dia manis juga.”
                “Joni Martinus. Cepat “
                “iya Pak”

                Seperti biasa saat pulang sekolah, suara motor memecah dan membuat suasana ramai. “Ayo pulang Mah. “ ajak Joni. “tunggu sebentar ya Jon. Aku mau photocopy soal Biologi dulu”. Saat-saat pulang sekolah adalah saat-saat dimana kita harus memilih Sabar nunggu antrian dan pulang terakhir atau pulang pertama tapi berdesak-desakkan sambil mengeluarkan emosi. Tapi syukurnya motor Joni sudah stand by didepan gerbang sebelum kedua pilihan itu muncul. “Ayo pulang Jon”ucap Fatimah. Motor Joni melaju perlahan “Jon jangan lupa besok pake baju muslim,”
                “memangnya kenapa ?”
                “kebiasaan. Joni, besokkan Maulid Nabi”
                “Oh iya, maaf aku tidak tahu Mah”


                “Hari ini Maulid Nabi ya ?, ahhh, aku masih ngatuk “ gumam Joni dalam hati. “Jangan tidur lagi Kak” teriak Ani.
                “Cerewet”
                “Kakak jorok, Ayuk Fatimah sudah nunggu tuh”
                “Oh,,” Joni menarik kuat sarungnya “Eh, serius ?”
                “Lihat aja didepan”
                “Dek, bilang dengan Imah, kakak lagi mandi ya” Joni bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas kekamar mandi.
                “Kelamaan ya Mah ?. maaf tadi kesiangan”
                “Tidak solat subuh ya?”
                “solat kok, tapi habis solat aku langsung tidur lagi, hehehe” Joni nyengir

Disekolah sudah tampak ramai, acara Maulid Nabi benar-benar sudah dipersiapkan. “Joni Martinus !!” . “sial” gumamku pelan. “cepat ambil tikar dimusolah” ucap Pak Satrio
“Iya Pak” jawab Joni dengan wajah kusut. Joni mengangkat sebuah tikar besar “aduh berat banget nih” pikirnya. “prakk !!” Joni menabrak seseorang, “Eh, maaamaaaf ya. Tidak sengaja”
“Kau lagi “ ucap seorang wanita yang Joni tabrak
“kau, wanita aneh…” Joni tersenyum melihat seseorang yang ada dihadapanya.
“Namaku Aulia Nofitasari salam kenal”. Joni yang mendengarnya hanya bisa terdiam sambil berfikir “aneh”.
“iya-iya. Nama ku Joni Martinus salam kenal juga”
“Sini aku bantu” ucap Aulia sambil membantu Joni membawa tikar besar itu
“Thanks ya”.


Jam sudah menunjukkan pukul 7.15, semua siswa telah duduk ditempat yang disediakan. Acara terlihat sudah siap dimulai. “Assalamualaikum warohmatulahi wabarokatuh” terdengar suara seseorang yang tidak asing bagi Joni “Fatimah ??, dia jadi pembawa acara ya?”
                “Jon, Pembawa acaranya cantik juga ya” ucap Toni
                “tentu saja, coba lihat Andri.” Joni menunjuk kearah Andri yang serius mendengarkan Fatimah membacakan susunan acara “lihat dia tidak berkedip sekalipun”. Toni yang melihat Andri tertawa terkikik-kikik, “Joni Martinus, Ssssttt !!!” tegur Pak Satrio yang ada berdiri dibelakang Joni. “sial” gumam Joni pelan.
                “Oh iya, nampaknya kamu sudah berhasil tuh untuk dekatin Aulia. Kapan rencara nembaknya ?” tanya Toni pelan.
                “Rencana bunuh diri mungkin. Aku tidak memikirkan hal semacam itu”
                “memangnya kenapa ?”
                “Joni Martinus “ tegur Pak Satrio kedua kalinya. Joni menoleh kearah belakang melihat kearah Pak Satrio lalu tersenyum kecil
                “Nanti saja aku jawab, hargai didepan Ton”
                “Masa ?.. alasan, bilang aja mau lihatin pembawa acaranya”
                “Iya, memangnya kenapa ?, puas “ tiba-tiba perasaan aneh muncul dari arah samping, “auranya aneh “pikir Joni.  Joni yang penasaran memaksakan diri melawan arus datangnya aura aneh dari samping kanannya. “Paaaak Saaaatriiiiio !!!. Sial” ucap Joni dalam hati

 
                Setelah 2 jam berlalu akhirnya acara Maulid Nabi pun selesai, Joni dan Andri terlihat begitu  puas “Akhirnya selesai juga acaranya Jon” ucap Toni lega.
                “Seandainya lebih lama lagi “ucap Andri
                “iya setuju” sahut Joni
                “Kalian berdua aneh. Memangnya kalian benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan tadi?”
                “tidak “ucap Joni dan Andri kompak.
                “Ayo pulang Jon” Ucap Fatimah dari arah meja piket.
                “tunggu dulu Jon. Taruhan yang kemaren masih berlaku kan ?”tanya Toni sambil tersenyum
                “Tentu, ….dan kurasa aku yang kalah. “
                “Memangnya kenapa ?, apa kamu sudah tahu ?”
                “Tahu apa  Ton ?, bukan apa-apa, sih. Tapi aku benar-benar telah kalah dengan taruhan yang aku buat sendiri. Aku telah disadarkan oleh seorang wanita, bahwa ikatan keluarga dan persahabatan lebih berarti dari pada ikatan pacar. Keluarga dan sahabat itu bisa selamanya, tapi kalo pacar aku rasa tidak, seminggu dua minggu mungkin udah putus“
                “Jadi begitu ya. Tapi aku baru mau jujur, sebenarnya aku sudah pacaran sama Nadia”
                “benarkah ? Nadia X3 itu kan. Waw selamat ya “
                “Sakti Ton”tambah Andri.
                “Aku tidak butuh ucapan selamat ini” ucap Toni sambil memberikan sebotol bedak.
“Sial”
                “Jon masih lama?” tanya Fatimah
                “Tunggu didepan Mah” ucap Joni. Joni mengambil bedak yang ada ditangan Toni dan langsung menyimburkan isi bedak kemukanya yang hitam.
                Joni menyimburkan sisa bedak kearah Andri “Dri. Mukamu juga butuh bedak tuh”
                “Joni !!”
                “10 keliling kan?” Joni berlari dengan penuh semangat. Siswa-siswi yang melihat Joni berlari sekan memberikan semangat kepadanya. Ada beberapa siswa yang merekam kejadian langkah itu, Joni berlari tanpa menghirau kan semua itu, dia berlari seolah-olah sedang berada didalam pertandingan lari. Terlihat Pak Satrio juga memberikan semangat kapada Joni . Pada putaran terakhir, tiba-tiba saja Andri muncul dan menyimburkan segentong air kearah Joni. “burrrrr”
 “Joni Smile !!” teriak Toni memberikan aba-aba memoto.
                “Sial !!!, Toni Meidianto !!!!, cepat hapus foto itu!!!”